Menerobos Lampu Merah Terancam Bangkrut. Kok Bisa?

By on Sep 30, 2014
20130518091703_372

Pernah jengkel dengan orang yang menerobos lampu merah? Atau pernah punya pengalaman menerobos lampu merah? Jangan sungkan untuk pengakuan dosa. Jujur saja, penulis pun terkadang nakal. Tetapi riskan juga, resikonya tidak cuma di dunia.

Dalam kondisi terburu-buru, dan situasi jalur yang mendapat giliran lampu hijau pun lengang tak nampak kendaraan lewat, rasanya sah-sah saja menerobos lampu merah. Sesekali nakal. Yang penting tidak ada polisi. Mungkin begitu pikiran kita.

Ya, rambu lalu lintas memang bikinan manusia. Mungkin dipikiran orang, melanggar lampu lalu lintas kejahatannya tidak sama dengan melanggar perintah Tuhan. Tak perlu terlalu merasa bersalah.

Tetapi benarkah begitu? Apakah saat melanggar lampu merah tidak ada pihak yang kita zholimi yang mungkin akan menuntut kita di akhirat kelak? Sebagai seorang muslim, sudah seharusnya segala hal kita ukur dengan kacamata keimanan.

Seorang sahabat muslim politan menceritakan pengalaman tidak mengenakkannya saat mengantri di lampu merah di bawah jembatan layang Tanjung Barat. Kendaraan dari arah Lenteng Agung menuju Pasar Rebo akan menghadapi dua hambatan: Lampu merah dan perlintasan pintu kereta. Sering kali saat lampu lalu lintas berwarna hijau, kendaraan tetap tidak bisa bergerak karena ada kereta lewat. Kurang nyaman mengantri di sana.

Yang membuat hati jengkel, saat lampu hijau baru menyala, kendaraan yang menuju Pasar Rebo tidak bisa langsung jalan karena aliran kendaraan dari Pasar Minggu masih deras. Padahal jalur itu sudah mendapat giliran lampu merah. “Padahal kita khawatir, kita belum sempat jalan tapi kereta sudah lewat,” ceritanya.

Itu lah cerita menjengkelkan pihak yang merasa dizholimi oleh penerobos lampu merah.

Sekecil apa pun kezholiman akan dipertanggung-jawabkan di akhirat kelak. Mungkin saat melanggar kita tidak pernah terpikir bahwa Allah SWT akan menyidangkan kasus ini bersama orang-orang yang kita zholimi. Sekecil apa pun kezholiman yang kita lakukan, bisa membuat amal sholeh kita tergerus.

Renungkan hadits berikut:

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bertanya kepada para sahabatnya,“Apakah kalian tahu siapakah orang yang bangkrut itu?”, mereka menjawab, “Orang yang bangkrut di antara kami adalah yang tidak punya dinar (uang) dan tidak punya harta”. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Sesungguhnya orang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan banyak pahala shalat, puasa, dan zakat akan tetapi (sewaktu di dunia) ia telah mencela si ini, menuduh dusta terhadap si itu,  mengambil harta orang lain (secara zalim), membunuh orang ini, dan memukul orang itu. Lalu setiap orang yang ia zalimi diberikan pahala-pahala orang zalim ini satu persatu, jika pahalanya telah habis dibagi (kepada sebagian orang yang ia zalimi) sebelum semuanya dapat, maka dosa-dosanya orang yang ia zalimi dipindahkan kepada orang zalim ini, lalu ia dilemparkan ke dalam neraka”. (HR Muslim).

Bayangkan bila di akhirat kelak amal yang susah payah kita kerjakan di dunia harus “diambil” oleh pengendara yang dirugikan akibat pelanggaran aturan lalu lintas yang pernah kita lakukan. Bila satu bus terhambat oleh kenakalan kita, maka tanggung jawab kita kepada supir beserta penumpangnya yang bisa berisi puluhan orang.

Mudah-mudahan kita tidak termasuk orang yang bangkrut di akhirat karena digerogoti aktivitas yang remeh: menerobos lampu merah.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

One Comment

  1. Tengku Ilyas

    Oct 29, 2014 at 08:50

    Tulisan yang bagus. Saya sering merasa lucu dengan hal-hal semacam ini. Orang-orang ramai berteriak soal memberantas korupsi, tapi gagal menyoroti korupsi yang dilakukan di kehidupan mereka sehari-hari (bahkan mungkin mereka ikut melakukannya). Selain soal menerobos lampu merah tersebut, korupsi yang sering saya temui dalam kehidupan sehari-hari seperti:

    – Pengendara sepeda motor mengkorupsi hak pejalan kaki dengan berkendara di trotoar.

    – Pengendara yang mengkorupsi hak penumpang transjakarta dengan berkendara di jalur busway, atau mengkorupsi hak pengguna jalan tol yang sedang dalam keadaan darurat dengan berkendara di bahu jalan.

    – Orang yang mengkorupsi hak pengantre dengan memotong jalur antrian.

    – Karyawan yang mengkorupsi hak para pemilik perusahaan dengan menunda-nunda pekerjaan mereka, sementara mereka tetap dibayar utuh.

    – Iring-iringan kendaraan berpatwal yang mengkorupsi hak pengguna jalan lain dengan berjalan di jalur yang berlawanan, memotong antrian, atau semacamnya, padahal mereka tidak punya hajat yang mendesak.

    – Yang paling sering, (dan saya sendiri masih melakukannya, hehehe) adalah orang yang mengkorupsi hak para inventor dan seniman dengan membajak karya mereka.

    Seseorang yang saya kenal pernah mengatakan, “hampir semua dari kita adalah koruptor. Satu-satunya alasan kita tidak merugikan negara hingga milyaran rupiah adalah karena kita tidak punya kesempatan untuk melakukan hal itu. Namun, di dalam diri kita, terdapat penyakit mental yang sama dengan para tawanan KPK: penyakit mental yang memandang kepentingan kita paling utama, sementara kepentingan orang lain tidak ada artinya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *