Belajar Dari Keluarga Ibrahim

By on Oct 6, 2014
kakbah

Oleh: Cahyadi Takariawan

***

Ibrahim ‘alaihis salam adalah figur seorang ayah yang sangat bijak. Kecintaan beliau kepada Allah menjadi landasan utama dalam setiap langkah kehidupan. Ujian demi ujian dihadapkan kepada Ibrahim untuk semakin memantapkan kelurusan orientasinya. Subahanallah, Ibrahim senantiasa lulus melewati berbagai ujian tersebut.

Syahdan, setelah sekian lama berpisah, Nabi Ibrahim as menemui putera tersayangnya, Ismail. Belum usai rasa rindu yang terpendam saat bertemu dengan buah hati tersayang, Ibrahim as harus membuktikan besarnya rasa cinta kepada Allah melebihi segala-galanya. Beliau mendapatkan perintah Allah untuk menyembelih Ismail yang sangat dicintai.

Perhatikan bagaimana Ibrahim as membahasakan “kalimat perintah dari Allah” menjadi “kalimat musyawarah kepada Ismail”.

“Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: “Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!” (Ash Shaffat: 102).

PENTINGNYA MUSYAWARAH

Sebagai Nabi, mudah saja bagi Ibrahim as untuk mengatakan, “Aku diperintahkan oleh Allah untuk menyembelihmu, dan aku akan mentaati perintah Tuhanku”. Dengan bahasa perintah seperti itu, pasti Ismail akan taat dan patuh. Namun, subhanallah, bukan itu bahasa yang beliau pilih. Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya sikap qana’ah, sikap penerimaan yang tulus dalam melaksanakan perintah. Bukan sebuah keterpaksaan.

Maka, lihatlah betapa indah bahasa yang dipilih Ibrahim as untuk disampaikan kepada ananda tercinta, Ismail :

“Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu…” Beliau hanya menyebut perintah Allah sebagai mimpi. Ibrahim tidak mengatakan penyembelihan Ismail sebagai sebuah perintah yang wajib dilaksanakan.

Kalimat musyawarah muncul dalam ungkapan Ibrahim as, “maka pikirkanlah apa pendapatmu…..” Sungguh, beliau bisa saja mengatakan, “Engkau harus taat dan tidak boleh membantah. Ini perintah Allah !” Beliau membahasakan perintah Allah dengan bahasa istisyarah (meminta pendapat), agar penerimaan Isma’il bisa lebih sempurna, bukan semata-mata karena melaksanakan kewajiban.

Dengan bentuk musyawarah seperti itu, lebih tampak kualitas kepribadian Ismail yang luar biasa. Ia sangat yakin, bahwa bapaknya adalah Nabi yang selalu berada dalam bimbingan Allah. Ismail tidak menyangsikan perkataan dan perbuatan bapaknya, karena selama ini ia mengetahui bahwa bapaknya sangat mentaati Allah. Dengan mudah Ismail memahami bahwa apa yang disebut sebagai mimpi oleh Ibrahim as, sesungguhnya adalah sebuah perintah dari Allah.

Ibrahim mengajarkan kepada kita pentingnya musyawarah dalam kehidupan keluarga, sampaipun dalam masalah pelaksanaan kewajiban agama. Berbagai pertanyaan dan dialog dengan anak, akan membuat mereka lebih memahami esensi dan hakikat dari peribadatan yang telah dilaksanakan dalam kehidupan keseharian.

“Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang tidak mau melaksanakan shalat ?”

“Bagaimana pendapatmu mengenai orang yang tidak mau berpuasa Ramadhan?”

Pertanyaan semacam itu akan bisa membangkitkan pemikiran dan pada akhirnya bisa memunculkan kesadaran yang tulus akan pentingnya melaksanakan kewajiban agama.

BAHASA DAN PERASAAN LEMBUT

Ibrahim juga mengajarkan kepada kita pemilihan bahasa dan kehalusan perasaan. Ibrahim berbicara dengan bahasa hati yang tulus, maka langsung menyambung pula dengan hati Ismail yang halus. Mereka tidak perlu berdebat dan adu argumen. Mereka berbicara dengan kehalusan budi.

Lihatlah, betapa luar biasa jawaban Ismail :

“Hai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; Insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang shabar” (Ash Shaffat: 102).

Inilah perbincangan antara dua orang yang saling mengasihi dalam mencintai Allah melebihi segala-galanya. Ungkapan mimpi yang disebutkan Ibrahim, dijawab Ismail dengan, “Hai Ayahanda, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu…” Sangat peka hati Ismail, bahwa mimpi bapaknya bukanlah takhayul, namun sebuah perintah Allah.

Keduanya mampu menggunakan bahasa yang santun, bahasa yang halus dan lembut. Itu semua muncul karena kehalusan perasaan Ibrahim dan Ismail, yang telah ditempa dalam keimanan kepada Allah.

“Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah keshabaran keduanya)” (Ash Shaffat: 103).

Tentu saja, Allah tidak akan menyia-nyiakan pengorbanan keduanya. Ketaatan Ibrahim terhadap perintah Allah untuk menyembelih anak tercinta, membuahkan syariat kurban yang kita laksanakan hingga sekarang.

“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar” (Ash Shaffat: 107).

Ibrahim as memberikan keteladanan kepada kita perlunya musyawarah dalam kehidupan rumah tangga. Sesuatu yang telah menjadi perintah Allah, bisa dibahasakan dengan lebih “manusiawi” melalui musyawarah. Hal inilah yang akan membangkitkan motivasi kuat pada anak untuk menunaikan ketaatan, karena tidak didasarkan kepada paksaan, melainkan kepada kesadaran. Demikian pula Ibrahim mengajarkan pemilihan bahasa yang lembut, serta memberikan keteladanan dalam kehalusan perasaan.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *