Halal Itu Prinsip

By on Oct 24, 2014
halal

“Aduh sis, hari gini yang haram aja susah, apalagi yang halal.”

Reni sedang heran dengan rekan kerjanya, Nisa. Saat Reni ulang tahun, Reni membagikan donat kepada teman-temannya satu departemen. Tapi Nisa tak menyentuh donat pemberian Reni. “Maaf Ren, buat yang laen aja ya. Gak selera,” jawab Nisa. Reni tak percaya begitu saja. Saat didesak, Nisa mengaku ia menolak pemberian Reni karena gerai tempat Reni membeli donat belum mendapat sertifikat halal.

Di lain waktu, Nisa tertarik dengan sebuah sepatu yang dipajang di sebuah konter saat ia berjalan-jalan dengan Reni di sebuah mal. Di rak sepatu itu tertulis, pembelian dengan kartu kredit mendapat diskon 20%. Nisa malah membelinya kontan, tanpa kartu kredit. Nisa mengaku tak punya kartu kredit. Saat ditanya Reni kenapa tidak mau membuat kartu kredit, Nisa menjawab takut terjebak dalam riba yang tidak halal.

Seperti kata Reni, yang halal aja susah apalagi yang haram, Reni membayangkan kehidupan Nisa bakal kesusahan. Apa-apa harus saklek yang halal. Duh…

Aktivitas manusia tak lepas dari mencari nafkah dan membelanjakan nafkah. Sementara tujuan hidupnya adalah untuk beribadah kepada Allah swt. Bekerja, rekreasi, belanja hingga bersedekah, semua aktivitas itu punya tuntunannya dalam rangka beribadah kepada Allah swt.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ

“Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS. 51: 56).

Sebagai seorang muslim yang telah menyerahkan diri pada aturan Allah swt, kita hanya akan memilih yang halal. Baik makanan maupun perbuatan.

“Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Allah itu baik. Dia tidak akan menerima sesuatu melainkan yang baik pula. Dan sesungguhnya Allah telah memerintahkan kepada orang-orang mukmin seperti yang diperintahkan-Nya kepada para Rasul. Firman-Nya: ‘Wahai para Rasul! Makanlah makanan yang baik-baik (halal) dan kerjakanlah amal shalih. Sesungguhnya Aku Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.’ Dan Allah juga berfirman: ‘Wahai orang-orang yang beriman! Makanlah rezeki yang baik-baik yang Telah menceritakan kepada kami telah kami rezekikan kepadamu.'” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan tentang seroang laki-laki yang telah lama berjalan karena jauhnya jarak yang ditempuhnya. Sehingga rambutnya kusut, masai dan berdebu. Orang itu mengangkat tangannya ke langit seraya berdo’a: “Wahai Tuhanku, wahai Tuhanku.” Padahal, makanannya dari barang yang haram, minumannya dari yang haram, pakaiannya dari yang haram dan diberi makan dengan makanan yang haram, maka bagaimanakah Allah akan mengabulkan  do’anya?.” (H.R. Muslim)

Seorang muslim harus memastikan gaya hidupnya comply dengan aturan Allah swt, yaitu menjadikan halal sebagai prinsipnya. Rasulullah saw sudah mensinyalir zaman di mana manusia tidak lagi peduli dengan halal-haram. Masa di mana manusia berprinsip seperti ungkapan di atas, yang haram saja susah apalagi halal.

“Akan datang suatu masa pada umat manusia, mereka tidak lagi peduli dengan cara untuk mendapatkan harta, apakah melalui cara yang halal ataukah dengan cara yang haram”. (HR Bukhari).

Bekerja yang Halal

Bila ridho Allah menjadi tujuan, maka sesusah apapun mencari usaha yang halal akan ditempuh.

”Siapa saja pada malam hari bersusah payah dalam mencari rejeki yang halal, malam itu ia diampuni”. (HR. Ibnu Asakir dari Anas)

Mencari nafkah dengan jalan yang haram punya resiko besar. Yaitu tidak dikabulkannya doa hingga ancaman adzab neraka. Dalam hadits riwayat Imam Muslim di atas, Rasulullah menceritakan tentang seorang yang ditolak doanya karena nafkahnya dari jalan yang haram.

“Sesungguhnya tidak akan masuk surga daging yang tumbuh dari harta yang haram. Neraka lebih pantas untuknya.” (HR Ahmad dan Ad Darimi)

“Tidak akan bergeser tapak kaki seorang hamba pada hari Kiamat, sampai ia ditanya tentang empat perkara. (Yaitu): tentang umurnya untuk apa ia habiskan, tentang jasadnya untuk apa ia gunakan, tentang hartanya darimana ia mendapatkannya dan kemanakah ia meletakkannya, dan tentang ilmunya, apakah yang telah ia amalkan”. (HR At Tirmidzi dan Ad Darimi).

Memakan Makanan Yang Halal

Setelah mencari nafkah dari jalan yang halal, mengeluarkan nafkah pun harus pada yang halal. Seperti makanan yang dikonsumsi, harus yang halal karena Allah swt perintahkan seperti itu.

“Hai sekalian manusia! Makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. al-Baqarah: 168).

Bertransaksi Melalui Cara Yang Halal

Riba, meski memudahkan untuk bertransaksi dan berbelanja, merupakan hal yang harus dihindari oleh seorang muslim. Ada banyak nash baik hadits maupun ayat Qur’an yang melarang praktik riba. Sedangkan praktik seperti ini yang sedang marak di kehidupan modern. Hendaknya, karena hati kita telah berserah kepada Allah untuk menerima semua aturan-Nya, transaksi riba harus dijauhi sedapat mungkin meski riba telah mengepung semua sektor dan aktivitas kehidupan saat ini.

“Allah memusnahkan riba dan menumbuh-kembangkan sedekah. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang tetap dalam kekafiran dan selalu berbuat dosa.” (Al-Baqarah: 276)

Menghindari Syubhat

Syubhat ialah sesuatu yang masih samar dan dipertentangkan hukumnya berdasarkan dalil – dalil yang ada dalam Kitab dan Sunnah, dan maknanya pun masih diperdebatkan. Karena status hukumnya masih fifty-fifty, ada peluang status haram yang jelas dari hal yang belum jelas itu. Untuk masalah ini, Rasulullah berpesan agar umatnya menjauhi hal yang syubhat dan memilih hal yang sudah jelas kehalalannya.

“Sesungguhnya perkara yang halal itu jelas, yang haram itu jelas, dan di antara keduanya ada perkara-perkara yang samar (syubhat), yang tidak diketahui oleh banyak manusia. Barangsiapa yang menghindari syubhat itu berarti dia telah membersihkan diri untuk agama dan kehormatannya. Dan siapa yang terjerumus ke dalam syubhat itu berarti dia terjerumus ke dalam perkara yang haram, seperti seorang penggembala yang menggembalakan (binatang ternaknya) di sekitar daerah terlarang, hampir-hampir dia akan masuk menggembalakan (binatang ternaknya) di daerah tersebut. Ketahuilah, bahwa setiap raja memiliki daerah terlarang. Ketahuilah bahwa daerah terlarang milik Allah adalah perkara-perkara yang haram. Ketahuilah, bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika baik maka akan menjadi baik seluruh tubuh, dan jika buruk menjadi buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa itu adalah hati.” (HR Bukhari Muslim)

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

One Comment

  1. Pingback: Restoran McDonald’s Pertahankan Sertifikat Halal - Muslim Politan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *