Pelajaran Soal Esensi Dari Ibadah Qurban

By on Oct 13, 2014
hewan qurban

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya.” (Al-Hajj : 37)

Ibadah qurban memberi pelajaran tentang esensi ibadah dari sekedar seremonial belaka. Pelajaran tentang esensi itu pun bisa didapat dari cerita bagaimana perintah qurban itu turun.

Yang diminta kepada Ibrahim a.s. adalah mengorbankan anak kandungnya semata wayang. Sangat berat dan terasa musykil bagi orang awam. Tapi itulah perintah kepada kholilullah, kekasih Allah, sebagai pembuktian cinta kepada Allah swt.

Pada akhirnya Allah swt mengganti objek yang diqurbankan menjadi seekor domba, tatkala eksekusi sedang dilaksanakan. Keajaiban Allah perlihatkan kepada pasangan bapak-anak yang taat itu. Namun apapun yang diqurbankan, esensinya adalah ketaqwaan dan ketaatan kepada Allah swt.

Pun pada apa yang diqurbankan oleh umat Muhammad saw, Allah swt hanya melihat esensi dari kepatuhan yang kita kerjakan. Pada Qur’an surat Al-Hajj 37 di atas, Allah swt sudah menegaskan bahwa yang dinilai-Nya adalah ketaqwaan, bukan sekedar darah dan daging hewan qurban.

Karena pada ketaqwaan kadang berlaku suatu rasio. Hewan seharga 2,5 juta rupiah yang dibeli oleh seorang berpenghasilan 10 juta sebulan tentu berbeda daripada kurban seharga 1,5 juta rupiah yang dibeli oleh seorang berpenghasilan 3 juta rupiah sebulan. Dari segi tantangan, orang kedua telah menaklukkan tantangan lebih besar daripada orang pertama untuk sebuah ketaatan. Itu hanya penggambaran sebuah rasio kasar, dalam kondisi keduanya sama-sama ikhlas.

Karena itu tidak bisa serta merta ketaqwaan diukur dari bobot hewan qurban. Allah swt yang lebih tahu kadar tantangan untuk membeli seekor hewan qurban pada tiap orang. Nah, bagaimana seseorang menaklukan tantangan untuk berkurban itulah yang terkonversi menjadi salah satu variable ketaqwaan yang akan Allah swt nilai. Masih banyak variable lain tentunya. Dan ketaqwaan bukan sekedar hitungan matematika.

Sudah sering beredar cerita tentang kegigiahan orang yang hidup pas-pasan agar bisa berkurban. Bila menyadari bahwa ibadah qurban itu soal esensi, maka para aghniya (orang kaya) tak perlu berbangga dengan hewan qurban yang ia beli tahun ini.

Sekali lagi ibadah qurban adalah soal esensi. Bukan apa yang kita beli, tapi bagaimana kita menaklukkan hawa nafsu untuk menjalakan sebuah ketaatan kepada Allah swt.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *