Puasa Asyuro, Sejarah dan Keutamaannya (Bag 1)

By on Oct 31, 2014
puasa asyuro

Pada dasarnya, Islam datang untuk menyempurnakan ajaran agama sebelumnya. Syariat umat terdahulu yang beberapa telah mengalami distorsi oleh pemeluknya diperbaiki oleh Islam. Seperti misalnya ibadah Haji yang banyak terdapat penambahan dan pengurangan oleh penduduk Mekah, dan juga konsepsi tauhid ajaran Nasrani dan Yahudi.

Ada juga syariat yang dilanjutkan oleh Islam, seperti puasa Asyuro. Tradisi berpuasa pada tanggal 10 Muharam ini adalah milik umat Yahudi yang memperingati hari terselamatkannya Nabi Musa dan Bani Israil dari pengejaran Fir’aun. Rasulullah mengesahkan tradisi ini untuk diadopsi umat Islam dengan berpuasa pada tanggal tersebut. Namun dengan penambahan puasa satu hari sebelumnya (tanggal 9) yang bertujuan menyelisihi ibadah kaum Yahudi.

Rasulullah telah memulai puasa Asyuro sejak sebelum hijrah. Dan puasa ini juga dilakukan oleh penduduk Mekah. Awalnya, puasa Asyuro hanya dilakukan pada tanggal 10 Muharam.

Hari Asyura adalah hari puasanya orang Quraisy di masa Jahiliyah. Dan dulu Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam juga berpuasa Asyura. Ketika beliau tiba di Madinah, beliau melakukan puasa itu, dan menyuruh para sahabat untuk melakukan puasa Asyura. (HR Bukhori Muslim)

Hingga kemudian saat Rasulullah saw hijrah ke Madinah, beliau mendapati umat Yahudi melakukan tradisi ini. Lalu Rasulullah mewajibkan para sahabat untuk ikut berpuasa Asyuro.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam sampai di Madinah, sementara orang-orang yahudi berpuasa Asyura’. Mereka mengatakan: Ini adalah hari di mana Musa menang melawan Fir’aun. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda kepada para sahabat: “Kalian lebih berhak untuk bangga terhadap Musa dari pada mereka (orang yahudi), karena itu berpuasalah.” (HR. Bukhori).

Saat itu perintah puasa di Ramadhan belum turun. Merespon perintah puasa itu, para sahabat bahkan melatih anak-anaknya untuk berpuasa.

Suatu ketika, di pagi hari Asyura’, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus seseorang mendatangi salah satu kampung penduduk Madinah untuk menyampaikan pesan: “Siapa yang di pagi hari sudah makan maka hendaknya dia puasa sampai maghrib. Dan siapa yang sudah puasa, hendaknya dia lanjutkan puasanya.” Rubayyi’ mengatakan: Kemudian setelah itu kami puasa, dan kami mengajak anak-anak untuk berpuasa. Kami buatkan mereka mainan dari kain. Jika ada yang menangis meminta makanan, kami memberikan mainan itu. Begitu seterusnya sampai datang waktu berbuka. (HR. Bukhari)

Hingga kemudian turun perintah wajibnya shoum di bulan Ramadhan. Puasa Asyuro pun derajatnya turun menjadi sunnah. Aisyah berkata,

Dulu hari Asyura’ dijadikan sebagai hari berpuasa orang Quraisy di masa jahiliyah. Setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tiba di Madinah, beliau melaksanakn puasa Asyura’ dan memerintahkan sahabat untuk berpuasa. Setelah Allah wajibkan puasa Ramadlan, beliau tinggalkan hari Asyura’. Siapa yang ingin puasa Asyura’ boleh puasa, siapa yang tidak ingin puasa Asyura’ boleh tidak puasa. (HR. Bukhori Muslim)

Saat itu puasa Asyuro masih dilakukan pada tanggal 10 Muharam. Setahun sebelum wafatnya Rasulullah saw, beliau terlibat dialog dengan sahabat yang mempertanyakan kemiripan puasa umat Islam dengan umat Yahudi. Dan saat itulah Rasulullah saw berniat untuk menambahkan ritual puasa sunnah Asyuro menjadi dua hari, yaitu tanggal 9 dan 10 Muharam.

Ketika Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam melaksanakan puasa Asyura’ dan memerintahkan para sahabat untuk puasa. Kemudian ada sahabat yang berkata: Ya Rasulullah, sesungguhnya hari Asyura adalah hari yang diagungkan orang yahudi dan nasrani. Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tahun depan, kita akan berpuasa di tanggal sembilan.” Namun, belum sampai tahun depan, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallamsudah diwafatkan. (HR. Muslim)

Sayang, Rasulullah tak sempat melaksanakan niatnya itu karena beliau saw lebih dahulu dipanggil Ilahi.

Secara garis besar, Al-Hafidz Ibn Rajab membagi sejarah perintah puasa Asyuro pada empat tahap:

1. Sebelum hijrah, Rasulullah berpuasa bersama orang musyrik di Mekkah. Dan Rasulullah tak memerintahkan umat manusia untuk berpuasa Asyuro

2. Setelah hijrah di Madinah, Rasulullah mewajibkan umat Islam untuk berpuasa Asyuro. Saat sebelum perintah puasa Ramadhan turun.

3. Setelah perintah puasa Ramadhan turun, derajat puasa Asyuro turun menjadi sunnah.

4. Niat untuk menambah hari puasa Asyuro menjadi tanggal 9 dan 10 Muharam.

Bersambung ke Keutamaan Puasa Asyuro

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *