Saat Merasa Selalu Dirundung Masalah

By on Oct 29, 2014
sedih

فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا

”Karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan”

Pernah merasakan hidup teramat sulit, atau bahkan merasa orang yang paling sial di dunia? Tiap saat ada saja kesulitan yang datang. Kalau ada yang meminta untuk membuat daftar masalah yang sedang dihadapi, akan mudah menyusun list yang  panjang.

Tetapi apa pun masalahnya, tak pernah ada alasan untuk mengeluh. Apalagi kalau mau sedikit berusaha menghitung perbandingan nikmat yang sedang didapat dan musibah yang sedang dihadapi. Sangat tidak sebanding.

Persoalannya, apakah kita akan bersikap adil bersikap terhadap nikmat dan musibah yang datang? Kalau besaran reaksi terhadap satu musibah sama dengan besaran reaksi terhadap nikmat, maka orang-orang akan melihat kita sebagai manusia yang senantiasa ceria. Karena musibah itu tertutup sudah oleh kenikmatan yang jauh lebih banyak didapat. Sadarkah?

Yang terjadi adalah, nikmat yang tiap detik dirasakan oleh manusia dianggapnya sebagai sesuatu yang memang layak didapat. Sesuatu yang wajar dan tak perlu ada reaksi apa-apa. Berbeda dengan masalah, dianggap oleh manusia sebagai sesuatu yang tidak wajar menimpanya. Akibatnya manusia lebih sering bereaksi terhadap musibah daripada nikmat.

Sikap seperti ini yang disitir oleh Allah swt.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah, dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir.” (Al-Ma’arij: 19-21)

Padahal Allah swt saat memberi sebuah kesulitan, menyertakan pula beberapa kemudahan. Bukan satu kesulitan satu kemudahan, tapi bersama satu kesulitan terdapat banyak kemudahan.

Ibnu Katsir memberikan tafsir pada surat Al-Insyirah ayat 5 dan 6 seperti tertulis di atas.

“Ada pun penjelasannya adalah sebagai berikut. Lafazh “Al-’usri” (kesulitan) dalam ayat tadi yang terdapat di dua tempat itu berbentuk ma’rifat (definitif). Ini menunjukkan arti bahwa kesulitan itu sebenarnya hanya satu (mufrad). Sedangkan Lafazh “yusran” berbentuk nakirah (indefinitif). Ini menunjukkan bahwa kemudahan itu sebenarnya ada banyak (muta’addid). Karena itulah Nabi saw bersabda ‘Satu kesulitan takkan bisa mengalahkan dua kemudahan’. Itu lah yang dimaksud dengan firman-Nya ‘Karena sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.’ Al-’usr yang pertama itu sama dengan al-’usr yang kedua. Sedangkan yusr (kemudahan) itu ada banyak.”

Keimanan di dalam hati kita akan membenarkan apa yang Allah nyatakan dalam Al-Qur’an. Pembuktiannya mudah, tinggal hitung saja kenikmatan yang sedang kita rasakan. Syaratnya, kita harus membuka hati bahwa semua kemudahan, kelapangan, dan kesenangan yang kita rasakan itu bersumber dari Allah swt bukan karena kerja keras kita semata.

Dalam suatu riwayat dikemukakan bahwa ketika turun ayat QS.94:2-6 Rasululloh SAW. bersabda: “Bergembiralah kalian karena akan datang kemudahan bagi kalian. Satu kesusahan tidak akan mengalahkan dua kemudahan.” (Diriwayatkan oleh Ibnu jarir yang bersumber dari al-Hasan.)

Tips agar bisa merasakan kemudahan-kemudahan itu,  perbanyaklah bersyukur atas nikmat dari Allah swt dengan senantiasa mengucapkan hamdalah saat terasa sebuah kesenangan. “Dan terhadap nikmat Tuhanmu maka hendaklah kamu menyebut-nyebutnya (dengan bersyukur)” (QS 93:11).

Dan terhadap kesulitan, bersikaplah ridho dan lapang dada. Lalu kita akan sadar bahwa kemudahan yang kita dapat memang lebih banyak daripada kesulitan.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *