Gosip Kantor, Mana Yang Boleh Mana Yang Tidak?

By on Nov 5, 2014
gosip kantor

Rutinitas itu sudah berlangsung sejak lama. Ada sesi pagi, sesi siang, dan sesi sore. Saat-saat beberapa karyawan turun ke sekitar basement untuk merokok. Dengan satu kode, “yuk” oleh salah seseorang di antara mereka, beberapa karyawan segera berdiri dan dalam beberapa saat sudah ada di depan lift.

Sayang sekali, sesi-sesi itu terasa tak lengkap tanpa adanya gosip kantor. Saat karyawan-karyawan itu sarapan pagi di warung kopi di depan gedung, di antara hembusan asap, mengepul pula cerita perselingkuhan. Saat makan siang, dalam gelak tawa mereka terselip kisah perangai buruk karyawan baru. Begitu pula di sore hari, saat mereka berkumpul mengelilingi tukang gorengan, terserak cerita buruk tentang orang yang sedang tak bersama mereka.

Gosip memang bukan dominasi kaum wanita, para lelaki saat berkumpul pun punya godaan untuk menggosip. Tetapi siapa yang sadar bahwa gosip bukan persoalan yang enteng?

Ilustrasi betapa besarnya urusan ghibah itu seperti sebuah hadits berikut:

“Dari Aisyah ia berkata: saya pernah berkata kepada Nabi: kiranya engkau cukup (puas) dengan Shafiyah begini dan begini, yakni dia itu pendek, maka jawab Nabi: Sungguh engkau telah berkata suatu perkataan yang andaikata engkau campur dengan air laut niscaya akan bercampur.” (Riwayat Abu Daud, Tarmizi dan Baihaqi)

Maksud hadits itu, perkataan ghibah bisa membuat air laut terkontaminasi, padahal kita tahu volume air laut sangat besar. Air dua kullah saja (sekitar 270 liter) – menurut suatu pendapat – bisa menetralisir najis. Apalagi air laut. Lalu kalau ada zat yang bisa membuat air laut tercemar, maka zat itu sangat luar biasa volume dan daya rusaknya. Dan itulah ilustrasi dari ghibah.

Dalam hadits lain, dahsyatnya dosa ghibah digambarkan lebih parah dari menyetubuhi ibu kandung sendiri.

“Artinya : Riba itu ada tujuh puluh dua pintu, yang paling ringan daripadanya sama dengan seorang laki-laki yang menyetubuhi ibunya (sendiri), dan riba yang paling berat adalah pergunjingan seorang laki-laki atas kehormatan saudaranya”. (HR Abu Daud)

Qur’an memiliki bahasa sendiri dalam menerangkan ghibah: “Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Apakah salah satu diantara kalian mau memakan daging saudaranya yang sudah menjadi bangkai. Tentu kalian tidak akan menyukainya.”
(QS Al-Hujurat: 12)

Seperti itulah parahnya dosa ghibah. Maka memang sudah sepantasnya seorang karyawan kantoran yang beragama Islam menjaga jarak terhadap komunitas yang menjadikan ghibah sebagai rutinitas. Kecuali ia bisa mengubah kebiasaan komunitas itu.

Yang Bukan Termasuk Ghibah

Tetapi kadang ada diskusi yang tidak bisa terelakkan menceritakan kesalahan orang. Misalnya staff personalia berbincang dengan seorang manajer bagian yang membutuhkan karyawan baru, lalu staff personalia tersebut membacakan hasil psikotes seseorang yang baru saja mengikuti wawancara. Atau saat assessment (penilaian) seseorang karyawan yang akan naik pangkat. Atau saat seorang manajer berdiskusi dengan supervisor menyangkut seorang karyawan yang bermasalah. Ghibah kah?

Pada dasarnya, menceritakan keburukan seseorang itu ghibah. Berdasarkan hadits:

“Nabi bertanya kepada mereka: Tahukah kamu apakah yang disebut ghibah itu? Mereka menjawab: Allah dan RasulNya yang lebih tahu. Jawab Nabi, yaitu: Kamu membicarakan saudaramu tentang sesuatu yang ia tidak menyukainya. Kemudian Nabi ditanya: Bagaimana jika pada saudaraku itu terdapat apa yang saya katakan tadi? Rasulullah s.a.w. menjawab: Jika padanya terdapat apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu menggunjing dia, dan jika tidak seperti apa yang kamu bicarakan itu, maka berarti kamu telah memfitnah dia.” (Riwayat Muslim, Abu Daud, Tarmizi dan Nasa’i)

Tetapi Imam Nawawi rahimahullah menjelaskan beberapa poin eksepsi soal ghibah. Ada kalanya menceritakan keburukan seseorang itu halal dan tak terkena dosa ghibah. Yaitu pada kondisi berikut:

1. Seorang teraniaya mengadu kepada pihak yang berwenang.

2. Sarana memberantas kemunkaran.

3. Dalam rangka meminta fatwa/nasehat kepada seorang ulama.

4. Dalam rangka memperingati umat muslim atas potensi kejahatan seseorang.

5. Membicarakan perbuatan maksiat yang dilakukan secara terang-terangan oleh seseorang. Pembicaraan itu pada perbuatan maksiatnya, bukan pada masalah lainnya.

6. Julukan yang sudah umum dan orang tersebut rela atas panggilan itu.

Poin-poin di atas jelas menunjukkan bahwa adanya manfaat atau tujuan terhadap sebuah gunjingan. Imam Nawawi menerangkan bolehnya ghibah pada hal yang membawa maslahat dan kebutuhan secara umum. Intinya, ghibah dibolehkan untuk tujuan baik yang sesuai syariat yang dimana tidak mungkin tercapai tujuan itu kecuali dengan jalan ini.

Assessment seorang karyawan yang hendak naik jabatan, tentu punya tujuan maslahat. Atau mempertimbangkan seseorang untuk keperluan rekrutmen, tentu punya tujuan kebaikan. Poin nomor empat lebih dekat untuk justifikasi aktivitas assessment, rekrutmen, atau semisalnya. Yaitu menghindari potensi mudhorot seseorang.

Tetapi selama tidak ada justifikasi syar’i, gosip harus harus harus dihindari!

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *