Rajin Berpuasa, Karena Allah Atau Cuma Ingin Diet?

By on Nov 12, 2014
puasa

Rajin berpuasa tentu saja merupakan kebiasaan yang baik. Apalagi menjadikannya sebagai gaya hidup. Allah swt menyediakan ganjaran yang besar untuk orang yang puasa. Bahkan balasan untuk orang yang berpuasa dispesialkan dari amalan lain.

Rasulullah sallallahu’alai wa sallam bersabda, “Allah berfirman, ‘Semua amal anak Adam untuknya kecuali puasa. Ia untuk-Ku dan Aku yang akan membalasnya’.” (HR Bukhari Muslim).

Tetapi bagaimana bila puasa dilakukan karena ada alasan duniawi. Semisal ingin diet, ingin menurunkan kolesterol, ingin mengobati sakit mag, dll. Apakah puasa seperti ini diterima oleh Allah swt?

Hanya Niat Duniawi Tanpa Niat Ukhrowi

Rasulullah saw sudah menegaskan, setiap orang mendapatkan apa yang ia niatkan.

Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits)

Hadits di atas bercerita tentang seseorang yang hendak berhijrah namun niatnya hanya karena ingin menikahi seorang wanita yang ada di Madinah. Lalu Rasulullah pun mengeluarkan sabda seperti di atas.

Ditarik ke masalah niat berpuasa, maka bila seseorang berniat puasa karena diet tanpa mengharap diterima oleh Allah swt, maka ia tak akan mendapat apa-apa dari Allah swt. Puasanya hanyalah aktivitas duniawi semata, tak akan menjadi pemberat timbangannya di akhirat.

Sebenarnya bagaimanapun kita merawat tubuh, kelak akan binasa juga. Tetapi amal ibadah yang dilakukan karena Allah, itulah yang tersimpan untuk akhirat. Dan semua aktivitas duniawi yang dilakukan tanpa ada niat untuk akhirat, akan sia-sia dan musnah sebagaimana musnahnya dunia ini. Al Mundzir menyebutkan dari Ar Rabi’ bin Khutsaim, ia berkata, “Segala sesuatu yang tidak diniatkan mencari keridhaan Allah ‘Azza wa Jalla, maka akan sia-sia”.

Dan Allah mengancam orang yang orientasi aktivitasnya hanyalah kehidupan dunia dan melupakan tujuan akhirat.

“Barangsiapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di dunia itu apa yang kami kehendaki bagi orang yang kami kehendaki dan Kami tentukan baginya neraka jahannam; ia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barangsiapa yang menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh sedang ia adalah mukmin, maka mereka itu adalah orang-orang yang usahanya dibalasi dengan baik”. (Qs Al-Isra:18-19)

Penggabungan Niat Karena Ada Keuntungan Dunia

Masalahnya menjadi berbeda kalau puasa yang dilakukan itu karena mengharap ridho Allah swt, dan ada sisipan harapan keuntungan dunia seperti badan sehat, kolesterol turun, dan sebagainya. Para ulama berpendapat ini masih dibolehkan.

Sebuah hadits dhoif – bahkan ada yang menilai palsu – berbunyi shumu tashihu, berpuasalah maka kamu akan sehat. Terlepas status derajat hadits tersebut, berpuasa memang sudah dibuktikan oleh medis keampuhannya untuk kesehatan.

Para ulama masih membolehkan beribadah dengan adanya niat sampingan seperti ini. Karena ’harapan lain’ yang mengiringi niat kita, sifatnya hanya tabi’ (mengikuti), dan bukan tujuan utama. Sekali lagi, syaratnya adalah tujuan ibadah harus dominan, dan tujuan duniawi hanyalah sampingan. Dan niat sampingan ini disinyalir mengurangi pahala ibadah.

Sama seperti pergi haji sambil berdagang, atau bersedekah dengan niat kesembuhan, dll. Rasulullah memang pernah bersabda, “Obati orang-orang sakit diantara kalian dengan sedekah”. Atau sabdanya, “Barang siapa yang senang untuk dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya maka hendaknya ia menyambung silaturahmi”. Semua jenis ibadah ini memang punya efek samping yang baik yang digaransi oleh Rasulullah saw.

Rasulullah saw juga pernah berpuasa karena di rumah tidak ada makanan.

“Suatu hari, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menemui kami, dan bertanya, ‘Apakah kalian punya makanan?‘ Kami menjawab, ‘Tidak.’ Kemudian beliau bersabda: “Kalau begitu, saya akan puasa.”. (HR. Muslim, Nasai, Turmudzi)

Tetapi ia saw lakukan puasa itu karena Allah swt, meski ada hal duniawi yang melatarbelakanginya.

Niat Hanya Karena Allah

Tentu saja nilai ibadah yang paling tinggi adalah manakala kita melakukan ibadah hanya karena Allah swt tanpa ada kepentingan duniawi. Kebiasaan berpuasa memang bagus, tetapi jangan hiraukan apakah ada efek menyehatkan atau tidak. Selama fisik masih sanggup berpuasa, lakukanlah karena Allah swt.

Tetapi bukan berarti puasa dihindari ketika sedang membutuhkan puasa, dengan alasan takut amalnya menyimpang. Tidak begitu. Tetap lakukan puasa, lalu luruskan niat. Atau selagi niat sampingan masih dibolehkan, tak masalah ada niat sampingan itu asalkan hati ini mencederungkan niat karena Allah swt.

Dan ketika seseorang sedang butuh adanya efek samping duniawi dari sebuah amal, misalnya ia sakit dan Rasulullah memerintahkan bersedekah untuk mengobati sakitnya, bersedekahlah dengan kesadaran bahwa Rasulullah telah memerintahkan begitu. Atau ia butuh kelapangan rezeki, lakukanlah silaturahim dengan kesadaran Rasulullah memerintahkan begitu agar rezeki lapang.

Berpuasa memang harus menjadi lifestyle seorang muslim. Dan apapun jenis ibadah, harus menjadi lifestyle seorang muslim. Termasuk semua sunnah Rasulullah saw. Hingga seorang muslim mendatangi surga yang kehidupannya serba terpenuhi.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *