Tetaplah Menjadi Romantis

By on Nov 7, 2014
Romantis di masa tua

Bersikap romantis kala masih menjadi pengantin baru, itu wajar saja. Justru tidak wajar jika di awal-awal pernikahan tak tampak laku romantis.

Dan kalau setelah pernikahan mulai menginjak usia yang tak muda masih bersikap romantis, itu baru jempolan. Karena seperti sudah lumrah terjadi di masyarakat, semakin lama usia pernikahan semakin dingin hubungan suami istri.

Banyak anekdot yang mengisahkan hubungan suami istri yang sudah dimakan usia. Misalnya humor nama kontak istri di handphone suami. Baru menikah, tertulis “My Lovely Wife”. Setahun menikah, “My Wife”. Lima tahun menikah, “Home”. Sepuluh tahun menikah, “Kantor Pusat”. Lima belas tahun menikah, “Provost”. Dua puluh tahun menikah, “Mabes Polri”. Dua puluh lima tahun, “Wrong Number”. Tiga puluh tahun, “Wong Edan”. Dan tiga puluh lima tahun, “Mak Lampir”.

Semakin beranjak usia seseorang biasanya makin tidak lagi memperhatikan bentuk badan. Lalu bisa dibayangkan dinginnya sebuah rumah tangga yang telah berumur, di mana pasangan sudah tidak mampu bersikap romantis, ditambah pula bentuk badan masing-masing sudah tidak memikat pasangannya.

Sebuah contoh mengagumkan datang dari pribadi Rasulullah saw. Sikap romantisnya yang konsisten terekam dalam hadits riwayat Abu Daud yang diceritakan oleh Aisyah rha.

Suatu ketika Rasulullah saw, Aisyah rha. dan para sahabat bersama dalam sebuah perjalanan. Dalam satu kesempatan Rasulullah memberi aba-aba kepada para sahabat, “Majulah kalian.” Rasulullah meminta para sahabat untuk meninggalkan ia dan Aisyah berdua.

Setelah keadaan memungkinkan, Rasulullah berkata kepada Aisyah yang saat itu masih langsing dan belia – di kala itu usia pernikahan mereka masih begitu muda, “Ayo, kita berlomba lari,” ajak Rasulullah.

Aisyah menyanggupi. Ujarnya, “Akupun berlomba bersama beliau dan akhirnya dapat mendahului beliau”.

Kemudian waktu pun bergulir. Tahun demi tahun, pernikahan Rasulullah dan Aisyah tetap hangat walau tubuh Aisyah makin gemuk.

Suatu saat mereka kembali mengadakan perjalanan bersama para sahabat. Rasulullah meminta kepada para sahabat, “Majulah kalian”. Kemudian Rasulullah menantang kembali Aisyah untuk berlomba lari. Aisyah berujar, “Aku berusaha mendahului beliau namun beliau dapat mengalahkanku”.

Mendapatkan kemenangan, beliau saw pun tertawa seraya berkata: “Ini sebagai balasan lomba yang lalu.”

Rasulullah saw mencontohkan sikap hangat kepada istrinya, baik saat baru menikah atau sudah lama menikah. Ajakan lomba lari kepada istrinya adalah contoh pemanfaatan waktu yang berkualitas untuk berdua-duaan. Dan itu Rasulullah lakukan baik saat Aisyah badannya masih lentur atau sudah tidak sefleksibel dulu.

Kisah ini menjadi cermin buat suami dan istri, untuk tetap menjaga sikap romantisnya layaknya awal-awal menikah. Tak ada salahnya untuk mengulangi kenangan yang manis bersama pasangan, mengunjungi tempat yang pernah dikunjungi, makan malam di tempat yang dulu pernah menjadi langganan, atau melakukan kembali kejutan-kejutan romantis yang dulu pernah dilakukan.

Tetaplah menjadi romantis seperti dulu!

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *