Hedonic Treadmill Dalam Pandangan Islam

By on Dec 8, 2014
hedonic treadmill

Belakangan ini muncul istilah “hedonic treadmill”. Bisa diartikan hedonic treadmill ini sebagai adaptasi sifat gaya hidup hedonis kita terhadap kenaikan pendapatan. Misalnya, saat penghasilan sekitar 3 juta rupiah sebulan, belum terfikir untuk memasang AC di rumah, atau wisata kuliner hanya sekali sebulan. Tetapi kita penghasilan sudah 6 juta sebulan, jangankan wisata kuliner, wisata ke pelosok nusantara pun dijabani.

Seperti cara kerja treadmill, semakin kencang berlari semakin cepat roda treadmill berputar. Begitu juga semakin besar pendapat semakin terjadi peningkatan kebutuhan. Hal yang dulu tidak terasa butuh, tiba-tiba dirasakan wajib ada.

Bagaimana Islam memandang hal ini?

Islam adalah agama pertengahan. Islam melarang kikir, sekaligus melarang boros. Yang baik adalah pertengahan.

Konsep zuhud dalam Islam hakikatnya adalah tidak gandrung pada dunia. Meletakkan dunia di tangan, tapi bukan di hati. Mengelola dunia sesuai dengan apa yang telah diberikan Allah, tanpa melekatkan kecintaan pada apa yang dikelola. Tak sedih apabila hartanya berkurang, tak juga gembira bila hartanya bertambah.

Zuhud harus terimplementasi dalam gaya hidup. Tapi bukan berarti menghindari gaya hidup yang sesuai kemampuan. Bukanlah zuhud saat tidak mau membeli kendaraan padahal butuh, dengan alasan ingin hidup sederhana. Kalau membeli kendaraan mewah karena ingin bermewah-mewahan, itulah yang tidak zuhud. Tetapi karena kita butuh dan mampu membelinya, lalu kita membeli kendaraan, dan kita pun tak berniat bermewahan dengan kendaraan yang dibeli, itulah zuhud yang sebenarnya.

Islam mengajarkan umatnya untuk tahadduts binni’mah (menampakkan kenikmatan). Rasulullah pernah menegur seorang sahabat yang berpenampilan jauh dan bertentangan dengan kenikmatan yang diterimanya. Seperti yang dikisahkan oleh Imam Al-Baihaqi bahwa salah seorang sahabat pernah datang menemui Rasulullah saw. dengan berpakaian lusuh dan kumal serta berpenampilan yang membuat sedih orang yang memandangnya. Melihat keadaan demikian, Rasulullah bertanya, “Apakah kamu memiliki harta?” Sahabat tersebut menjawab, “Ya, Alhamdulillah, Allah melimpahkan harta yang cukup kepadaku.” Maka Rasulullah berpesan, “Perlihatkanlah nikmat Allah tersebut dalam penampilanmu.” (Syu’abul Iman, Al-Baihaqi)

Rasulullah saw pernah bersabda, “Tidak akan masuk surga seseorang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan sebesar biji sawi.” Ada seseorang yang bertanya, “Bagaimana dengan seorang yang suka memakai baju dan sandal yang bagus?” Beliau menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Sombong adalah menolak kebenaran dan meremehkan orang lain.“ (HR. Muslim)

Jadi, selama dalam kewajaran dan tak ada niat bermewahan, peningkatan kebutuhan akibat peningkatan pendapatan itu wajar saja.

Yang tidak wajar adalah sikap boros yang mengimbangi peningkatan pendapatan. Menampakkan nikmat yang diperintahkan bukan dalam rangka boros. Walaupun mampu, boros tetap dicela dalam Islam.

Adakah batasan boros? Ukur saja, saat Anda konsumsi Anda jauh melampaui kebutuhan. Entah itu dalam bentuk makanan, pakaian, kendaraan, atau hal lain.

Silakan introspeksi dan timbang sendiri. Saat makin meningkat pendapat Anda makin membuat Anda boros, saat itulah hedonic treadmill bekerja.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *