Jangan Ada Keributan Gara-Gara Kata “Jangan”

By on Dec 2, 2014
memarahi anak

Oleh: Bendri Jaisyurrahman (@ajobendri)

Beberapa hari ini banyak yang tanya saya (lebih tepatnya mengajak diskusi) seputar kata “jangan” dalam ilmu parenting dan Alquran. Sebagian ada yang mengatakan kata “jangan” sebaiknya dihindarkan diganti kata anjuran. Ini ajaran parenting. Sebagian yang lain justru mempertentangkan dengan berdalih bahwa Al-Quran justru banyak memuat kata jangan. Apakah Quran salah?

Ujung-ujungnya saling melabel. Seolah-olah ilmu parenting yang menolak kata “jangan” dianggap tidak islami, pro yahudi, dsb. Nah, ini yang saya khawatirkan. Pertentangan yang berujung kepada labeling. Jangan-jangan ini disengaja. (Eh kok pake kata “jangan”?)

Bukannya sok bijak. (Sebab orang sok bijak sok bayar pajak hehe..) Tapi bersikap ekstrim – meskipun baik – tidak sesuai sunnah nabi.

Hakikatnya, Islam adalah agama pertengahan (ad diinul wasath). Maka tindakan menyalahkan ilmu yang bersumber dari barat tanpa dicari akarnya juga tak tepat. Seolah-olah kalau parenting itu dari barat, jelas-jelas salah, langsung tertolak. Padahal kita sering makan dari barat semisal rendang dari sumatera barat, eh…

Ilmu parenting pada dasarnya bagian dari ilmu “keduniawian” dimana rasul mengatakan “kalian lebih tau urusan dunia kalian”. Artinya silahkan inovasi! Tentu bukan berarti islam tak punya konsep dasar. Sama seperti ilmu kedokteran, parenting juga punya dasar ilmunya. Tapi Islam tak menolak inovasi dalam bidang kedokteran sebab berprinsip “hukum asal muamalah adalah boleh kecuali ada dalil yang melarang”. Maka, inovasi dalam kedokteran semisal operasi jantung, kemotherapi, dan cesar itu boleh kecuali yang jelas ada larangannya.

Sama juga seperti ilmu parenting. Muncul banyak inovasi yang tak semuanya kita tolak kecuali dengan dalil yang tegas. Mengenai kata “jangan” itu sendiri tak perlu kita cari dalih. Hal ini memang ada dalam alquran. So what?

Tentu sesuatu yang berada dlm Al-Quran tak boleh diragukan. Ini wilayah iman.

“Kitab (Al Quran) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertaqwa.” (QS 2:2)

Namun, sesuatu yang ada dalam Al-Quran tentu harus dilihat prakteknya dalam keseharian Nabi. Sebab beliau sejatinya ‘penerjemah’ terbaik maksud dari Al-Quran. Jika hanya berdasarkan Quran tanpa lihat praktek nabi, hati-hati bisa terkecoh. Bisa-bisa malah aneh.

Sholat, contohnya. Dalam quran perintahnya hanya rukuk dan sujud (QS 48 : 29). Jika tanpa melihat rasul, maka kita akan anggap sesat orang yang iktidal atau duduk tahiyat.

Begitu juga penggunaan kata “jangan” dalam Quran. Kita harus dudukkan dalam konteks ilmu parenting yang dicontohkan Rasul. Itu artinya, mari kita tengok sejarah bagaimana sikap rasul kepada anak-anak? Dan kita akan dapati beberapa perlakuan yang “beda”.

Sesuatu yang dilarang kepada orang dewasa ternyata dimaklumi bahkan dibolehkan kepada anak-anak. Jika orang dewasa dilarang main patung atau boneka, ternyata anak-anak boleh. Aisyah contohnya. Jika orang dewasa dilarang ngobrol atau bercanda dalam sholat. Maka khusus anak-anak semisal Husein, main di punggung Rasul bahkan dibiarkan. Bayangkan, kalau yang main di punggung itu Umar. Mungkin sudah Rasul marahi. Bahkan ada seorang anak yang pipis di baju rasul, dibiarkan. Tak dilarang. Kalau itu sahabat? Mungkin udah dikeroyok sama yang lain.

Karena itu, melihat penggunaan kata “jangan” dalam Al-Quran tak boleh sembarangan. Ada patokan dan standarnya. Untuk anak kecil yang belum baligh tentu beda perlakuannya dengan orang dewasa. Bahkan sesama orang dewasa saja masih ada perlakuan yang berbeda. Contohnya, orang Badui yang pipis di Masjid Nabawi dibiarkan, tak dilarang. Kenapa? Karena orang Badui itu tak tahu alias bodoh. Inilah hebatnya Rasul. Bersikap berdasarkan konteks kejadian.

Jadi, ayat tak dikeluarkan serampangan. Indah betul Islam ini jadinya.

Karena itu, sebagai panduan penggunaan kata “jangan”, ada beberapa pembahasan yang lumayan panjang. Salah satu yang mau saya bahas disini yakni konteks usia. Minimal ada 3 konteks usia penggunaan kata jangan sesuai sikap nabi : untuk anak yang belum berakal, untuk anak yang sudah berakal, dan untik remaja atau dewasa.

Untuk remaja atau dewasa, Rasul tak ragu untuk memberikan kata jangan jika memang membahayakan agama orang ini. Biasanya terkait akidah dan akhlak. Sementara untuk anak, Rasul bersikap berbeda. Rasul bedakan mana yang sudah berakal dan mana yang belum. Caranya sesuai petunjuk Rasul dalam urusan perintah sholat, yaitu “jika sudah bisa bedakan kanan dan kiri”. Itu artinya sudah diajak berpikir.

Nah, untuk anak tipe ini (bisa bedakan kanan dan kiri) kata larangan atau “jangan” dibolehkan. Tapi lebih elok jika ditambah solusinya agar mereka tau apa yang harus dilakukan. Ingat mereka minim pengalaman.

Hal ini dialami oleh Rafi’ bin Amr Al Ghifari yang punya hobi melempar kurma. Rasul melarangnya namun juga memberi solusi. Solusinya adalah, kalau mau makan kurma, yang jatuh di tanah tak perlu dilempar. Indah kan?

Sementara untuk anak yang belum bisa berpikir, Rasul tak melarang. Lebih banyak memberi tahu sikap yang tepat. Bahkan cenderung membiarkan. Yang dibiarkan rasul juga biasanya terkait dengan hal-hal yang berkaitan dengan eksplorasi skill. Rasul bahkan memotivasi anak yang lagi main panah di masjid dengan ucapan “teruslah memanah, sesungguhnya kakek moyangmu ismail seorang pemanah.” Kalau anak sekarang main panah di masjid? Udah jadi rempeyek dihujat jamaah hehe.

Makanya, yang kedua yang harus dipahami selain konteks objeknya juga konteks apa yang dilarang. Jika untuk eksplorasi skill, hindari kata “jangan”. Agar anak termotivasi kembangkan potensi. Tapi untuk eksplorasi spiritual dan emosi, silahkan pakai “jangan” dengan penjelasan.

Contoh penjelasan dlm quran “jangan ikuti langkah syetan, syetan itu musuh nyata bagimu”. Lebih elok jika larangan ada penjelasan. Tentu ini pas bagi anak yang sudah berpikir.

Di masa Rasul ada seorang anak yang makan berlari-lari. Rasul ucap : “Nak, sebutlah nama Allah. Pakai tangan kananmu dan makan yang paling dekat denganmu.” Rasul tak keluarkan kata “jangan” karena anak ini butuh tindakan konkret apa yang harus dilakukan saat itu.

Kesimpulannya, tidak perlu bersikap ekstrim. Parenting meski dari barat bisa jadi adalah hikmah kaum muslimin yang tercecer. So, buanglah sampah pada tempatnya ups..maksudnya pakailah kata jangan pada konteksnya.

Sekarang, silahkan cicipi jangan nya (alias sayur).

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *