Agar Anak Tak Segan Curhat Kepada Orang Tuanya

By on Feb 5, 2015
curhat anak

Di suatu sesi menggosip, seorang ibu bercerita kepada teman-temannya tentang kelucuan anak perempuannya yang sedang duduk di bangku Taman Kanak-Kanak yang suka memperhatikan seorang teman lelaki. Si anak setiap hari bercerita tentang kelakuan temannya itu.

“Mah, masak tadi Rio bekalnya ketinggalan di rumah. Rio bawa tempat bekalnya, tapi pas dibuka, kosong,” begitu ibu tadi menirukan curhat si anak. Tiap hari, ada saja cerita si anak tentang Rio.

“Tapi saya tidak pernah menggoda dia. Saya tidak pernah ‘cie cie-in’ dia,” lanjut ibu itu. Apa pasal? “Karena,” terang si ibu, “kalau dia malu, dia tidak mau lagi curhat sama kita,” begitu penjelasannya.

Penjelasan ibu itu mendapat sambutan anggukan dari teman-teman yang mendengar keterangannya. Mereka membenarkan. Seorang gadis yang sedang nimbrung di sesi gosip itu pun menguatkan penjelasan si ibu. “Iya benar. Waktu kecil mama pernah ‘cie -cie-in’ saya pas lagi cerita temen cowok. Sejak itu saya gak mau lagi curhat sama mama. Malu.”

Curhat anak begitu berharga bagi orang tua. Saat anak curhat, orang tua merasa masih dipercayai oleh anak dan bahagia melihat anak mau membuka komunikasi pada orang tuanya.

Tetapi bila anak tidak mau curhat, maka orang tua akan khawatir kepada siapa si anak akan menceritakan berbagai keluh kesahnya. Pernah ada kasus di mana seorang anak nyaman curhat kepada teman facebooknya. Sampai-sampai anak itu nurut saja saat teman facebooknya “menculiknya”. Orang tua juga khawatir bila teman curhatnya malah memberi saran yang menyesatkan pada anak.

Banyak anak yang enggan curhat kepada orang tua. Sayangnya itu bukan salah si anak, tetapi karena sikap orang tua yang membuat anak trauma untuk curhat pada ibu atau ayahnya.

Ada beberapa sebab, salah satunya adalah mempermalukan si anak saat curhat. Seperti ilustrasi di atas, celetukan “cieee” dari orang tua bisa membuat anak malu dan kapok untuk curhat kembali. Padahal saat anak curhat, ia merasa orang tua bisa dijadikan teman bicara yang asyik dan dipercaya.

Hal lain yang membuat anak enggan curhat pada orang tuanya adalah karena orang tua lebih mendominasi pembicaraan. Saat anak membuka obrolan, ia punya banyak hal yang bisa ia katakan. Tetapi itu bisa terhalang karena tanggapan orang tua yang malah mendominasi pembicaraan. Kadang orang tua gatel untuk terburu-buru memberi nasihat padahal anak belum selesai berbicara. Atau si anak berbicara sejengkal, orang tua menasihatinya sedepa.

Yang anak inginkan saat berkomunikasi dengan orang tuanya adalah ia bisa menumpahkan aduannya. Bukan meminta saran. Sama seperti orang dewasa, ada kalanya orang dewasa curhat hanya sekedar ingin didengar, bukan dinasehati.

Tetapi nasihat dari orang tua tetap wajib. Tinggal porsi dan caranya dijaga agar jangan sampai anak merasa jengah tiap kali curhat. Waktu yang tepat adalah saat si anak sudah selesai menumpahkan semua memori yang ingin ia ceritakan.

Orang tua pun harus pintar-pintar memancing anak bercerita. Tetapi bukan dengan pertanyaan investigatif seperti seorang polisi. Kadang ada saat anak tidak mau bercerita, atau hanya ingin bicara sedikit, orang tua juga tidak bisa memaksanya berbicara banyak. Khawatir tersimpan dalam pikirannya bahwa orang tuanya terlalu “kepo” dan terlalu ingin banyak tahu. Sifat normal manusia justru akan menghindari bicara banyak kepada orang yang kepo.

Cara asyik menggali anak untuk bercerita misalnya dengan berkata, “ajari bunda lagu yang diajarin di sekolah dong.” Atau mengajaknya bermain sekolah-sekolahan dan ia menjadi gurunya. Minta ia mengajarkan apa yang diajarkan di sekolah. Sembari itu, pancing anak untuk bercerita dan terbiasa curhat kepada Anda.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *