Bolehkah Menyalurkan Zakat Untuk Baksos?

By on Mar 30, 2015
tangan memberi

Kesadaran berzakat tumbuh dengan baik pada masyarakat kita. Lembaga zakat menjamur, dan tiap tahun semakin besar angka yang disalurkan oleh lembaga-lembaga itu ke masyarakat.

Kesadaran berzakat ini hendaknya dimbangi dengan pemahaman yang baik tentang zakat. Seperti kepada siapa saja zakat harus dibagikan.

Sebuah pertanyaan pernah diterima oleh pengurus Rumah Zakat tentang kebolehan menyalurkan zakat untuk acara bakti sosial. Dan berikut ini jawaban dari ustadz Kardita Kintabuwana, Lc., MA yang merupakan anggota Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat

Assalamualaikum,
Ustadz.. bagaimana hukumnya zakat penghasilan dialihkan ke baksos, apa bisa? Apa hanya perlu niat atau perlu juga diakadkan ke penerimanya? Bagaimana sebenarnya hukum melafalkan niat akad tersebut?

Terima kasih,

Yuni, Bengkulu

Jawaban:

Sobat Yuni yang dirahmati Allah swt, zakat memiliki kekhususan yang berbeda dengan infak atau shadaqah atau sumbangan lainnya. Dana zakat baik itu zakat penghasilan, zakat perdagangan, dan zakat yang lainnya merupakan dana terikat yang yang alokasi dan distribusinya hanya diberikan kepada 8 ashnaf (golongan) yang disebutkan dalam surat At-Taubah: 60.

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah dan untuk mereka yang sedang dalam perjalanan, sebagai suatu ketetapan yang diwajibkan Allah, dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.”

Oleh karena itu dana zakat tidak boleh dialihkan ke bentuk penyaluran lainnya yang tidak terikat misalnya: baksos atau pemberian sumbangan lainnya, kecuali kalau penerima dana tersebut termasuk dari delapan ashnaf tadi.

Namun, selama penerima dana tersebut adalah mustahiq (yang berhak menerima dana zakat) maka hukumnya sah dan boleh dilakukan. Untuk niat sebagaimana yang disepakati oleh jumhur ulama tidak perlu untuk dilafadzkan karena tempat niat adalah hati.     Imam Ibnu Abi al-Izz berkata: “Tidak ada seorang imam pun, baik itu Imam Syafe’I atau selain beliau yang mensyaratkan pelafalan niat. Niat itu tempatnya di hati berdasarkan kesepakatan mereka (para Imam). Hanya segelintir orang-orang belakangan saja yang mewajibkan pelafalan niat dan berdalih dengan salah satu pendapat dari madzhab Syafe’I. Imam Nawawi rahimahullah berkata itu sebuah kesalahan. Selain itu sudah ada ijma dalam masalah ini” (Kitab Al-Ittiba, hal. 62).

Sobat Yuni yang budiman, mudah-mudahan penjelasan yang singkat ini bermanfaat. Wallahu a’lam bishawwab.

Kardita Kintabuwana, Lc., MA
Dewan Pengawas Syariah Rumah Zakat
Lulusan Jami’ah Al Islamiyah Madinah (Lc.)
dan Universitas Islam Antar Bangsa Malaysia (MA)
sedang menyelesaikan S3 di UIN Jakarta

 

sumber : RZMagz / www.rumahzakat.org

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *