Menelusuri Jejak Pembagian Zakat

By on Mar 9, 2015
pembagian zakat

Pernahkah Anda terbayang, tidak ada lagi orang yang perlu diberi zakat karena hampir semua penduduknya membayar zakat? Pernahkah Anda terbayang, dana pajak dan zakat yang dikumpulkan bisa memenuhi hajat hidup suatu negara? Tentu itu kondisi ideal yang diharapkan selalu, meski ternyata kondisi seperti itu pernah benar-benar terjadi, yaitu pada masa-masa pemerintahan Umar Bin Khattab dan juga masa pemerintahan Umar Bin Abdul Aziz yang bahkan berlangsung tak lebih dari tiga tahun.

Dahulu uang negara dikelola melalui lembaga yang disebut Baitul Mal atau semacam Kas Negara. Sebenarnya pengelolaan uang dengan sistem Baitul Mal tersebut telah ada sejak jaman Rasulullah SAW memerintah Madinah, namun baru dilembagakan secara resmi pada masa Kekhalifahan Umar Bin Khattab atas usul seorang Ahli Fiqh yang bernama Walid Bin Hisyam. Saat itu Umar menunjuk Abdullah Bin Arqam untuk memimpin lembaga tersebut. Sedangkan pada masa pemerintahan Khalifah pertama Abu Bakar, pengelolaan keuangan negara masih sama seperti saat Rasulullah memerintah. Di tahun pertama masa pemerintahannya, Abu Bakar mendistribusikan dana yang tersedia di Baitul Mal kepada setiap orang sebanyak 10 dirham. Kemudian jumlah dana yang dibagikan kepada setiap penduduk bertambah menjadi dua kali lipat di tahun kedua masa kepemimpinannya.

Kaum muslimin menikmati hidup dengan lebih makmur dan sejahtera saat kepemimpinan Umar Bin Khattab. Hal itu terbukti dengan tidak ditemukannya penduduk miskin oleh Muadz Bin jabal, seorang staf Rasulullah yang diutus memungut zakat di Yaman. Pada masa Khalifah Abu Bakar dan Umar, Muadz terus bertugas di sana. Abu Ubaid menuturkan bahwa Muadz pernah mengirimkan hasil zakat yang dipungutnya di Yaman kepada Khalifah Umar di Madinah, karena Muadz tidak menjumpai orang yang berhak menerima zakat di Yaman. Namun, Khalifah Umar mengembalikannya. Ketika kemudian Muadz mengirimkan sepertiga hasil zakat itu, Khalifah Umar kembali menolaknya dan berkata, “Saya tidak mengutusmu sebagai kolektor upeti. Saya mengutusmu untuk memungut zakat dari orang-orang kaya di sana dan membagikannya kepada kaum miskin dari kalangan mereka juga.” Muadz menjawab, “Kalau saya menjumpai orang miskin di sana, tentu saya tidak akan mengirimkan apapun kepada Anda.”

Pada tahun kedua, Muadz mengirimkan separuh hasil zakat yang dipungutnya kepada Khalifah Umar, tetapi Umar mengembalikannya. Pada tahun ketiga, Muadz mengirimkan semua hasil zakat yang dipungutnya, yang juga dikembalikan oleh Khalifah Umar. Muadz berkata, “Saya tidak menjumpai seorang pun yang berhak menerima bagian zakat yang saya pungut.”

Hal tersebut kemudian terulang saat pemerintahan Umar Bin Abdul Azis yang terkenal dengan sebutan Khulafaur Rasyidin kelima. Meski masa pemerintahan Umar Bin Abdul Azis tak sampai tiga tahun, namun kesejahteraan itu sangat terlihat. Yahya bin Said, seorang petugas zakat masa itu berkata, “Saya pernah diutus Umar Bin Abdul Aziz untuk memungut zakat ke Afrika. Setelah memungutnya, saya bermaksud memberikannya kepada orang miskin, namun saya tak menjumpai satu orang pun. Umar Bin Abdul Aziz telah menjadikan semua rakyat pada waktu itu berkecukupan. Akhirnya saya membeli budak dan kemudian memerdekakannya.”

Kemakmuran itu bukan hanya di Afrika, tapi juga merata di seluruh penjuru wilayah Khilafah Islam, seperti Irak dan Basrah. Diceritakan saat itu Khalifah Umar Bin Abdul Aziz mengirim surat kepada Gubernur Irak, Hamid bin Abdurrahman agar membayar semua gaji dan hak rutin di propinsi tersebut. Hamid berkata, “Saya sudah membayarkan semua gaji dan hak mereka, namun di Baitul Mal masih terdapat banyak uang.” Khalifah Umar memerintahkan, “Carilah orang yang dililit utang tetapi tidak boros. Berilah dia uang untuk melunasi utangnya.” Abdul Hamid kembali menyurati Khalifah Umar, “Saya sudah membayarkan utang mereka, tetapi di Baitul Mal masih banyak uang.”

Kemudian Khalifah memerintahkan lagi, “Kalau ada orang lajang yang tidak memiliki harta lalu dia ingin menikah, nikahkan dia dan bayarlah maharnya.” Abdul Hamid sekali lagi menyurati Khalifah, “Saya sudah menikahkan semua yang ingin nikah. Namun, di Baitul Mal ternyata masih juga banyak uang.”Akhirnya, Khalifah Umar memberi pengarahan, “Carilah orang yang biasa membayar jizyah dan kharaj. Kalau ada yang kekurangan modal, berilah mereka pinjaman agar mampu mengolah tanahnya. Kita tidak menuntut pengembaliannya kecuali setelah dua tahun atau lebih.”

Betapa indah gambaran pemerintahan Islam saat itu, zakat yang dipungut dapat menghidupi hajat hidup rakyatnya bahkan hingga ke biaya pernikahan. Tentu dibutuhkan keahlian, kejujuran dan integritas dari para pengelolanya. Melihat sejarah gemilang yang pernah ditorehkan dahulu, sebenarnya Islam telah memberikan solusi yang tepat untuk menyejahterakan rakyat melalui zakat.

Zakat Masa Sekarang

Berabad kemudian tentu teknologi untuk penarikan zakat telah semakin modern. Tidak lagi diambil satu persatu ke rumah warga seperti yang dilakukan pada zaman sahabat, meski pada kenyataannya masih saja ada pembagian dan penarikan manual yang dilakukan masyarakat di pedesaan saat zakat fitrah.

Seiringdengan perkembangan teknologi makin beragam pula cara menunaikan zakat. Baznaz dan Laz semakin kreatif untuk membuat edukasi ke masyarakat tentang kesadaran berzakat. Komunitas-komunitas berbagi yang terbentuk semakin kreatif menularkan ‘virus berbagi’ kepada masyarakat. Outputnya bermacam-macam, ada yang berbentuk barang, uang maupun sharing ilmu-ilmu yang bermanfaat. Jejaring social semacam twitter dan facebook menjadi media yang cukup efektif untuk menarik perhatian masyarakat agar turut berpartisipasi di dalamnya. Dengan segala kemudahan yang ada, diharapkan masyarakat akan semakin tergugah untuk mendonasikan dana zakatnya sesuai dengan cara yang dinilainya paling meringankan. Sehingga potensi dana zakat yang 217 triliun di Indonesia dapat digali dan dimanfaatkan secara optimal.

sumber : RZMagz / www.rumahzakat.org

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *