Tentramkan Hati Dengan Mengamati Kekuasaan Ilahi

By on Mar 11, 2015
sholat di alam

Dulu saya sering mendongak ke atas memperhatikan awan berarak tatkala sedang dirundung masalah. Kebetulan saya sempat kuliah di sebuah kampus yang terletak di atas bukit, yang dari bukit itu tampak pemandangan sebagian kota Padang, laut, dan hutan yang hijau. Sangat indah. Dari bukit itu, memperhatikan awan yang besar-besar bergerak dihembus angin merupakan penawar hati yang resah. Terbersit pikiran bahwa Dia swt berkuasa menggerakkan awan yang jauh lebih besar dari diri saya. Tentu saja Dia azza wa jalla berkuasa untuk menolong saya di setiap permasalahan saya.

Memperhatikan kebesaran Ilahi bisa menumbuhkan optimisme. Dengan catatan, itu bisa terjadi kalau kita berserah diri dalam segala urusan kepada Allah swt dan menjadikan-Nya tempat meminta pertolongan. Barang siapa yang bertakwa dan bertawakkal kepada Allah, maka Allah akan memberikan jalan keluar dan mencukupkan keperluannya.

“… Barangsiapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya Allah melaksanakan urusan yang (dikehendaki)Nya. Sesungguhnya Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.” (QS 65: 2-3)

Adalah Nabi Zakariya a.s., sempat kesulitan mendapatkan seorang anak. Padahal usianya sudah senja. Memiliki anak penting baginya untuk memiliki penerus dakwahnya. Orientasinya bukan meneruskan keturunan, tapi meneruskan perjuangan.

Sudah menjadi skenario Allah swt., ia a.s. terpilih untuk mengasuh Maryam, seorang anak yang telah dinadzarkan oleh orang tuanya – Imran – untuk menjadi hamba yang saleh dan berkhidmat di Baitul Maqdis. Dibawah asuhan Nabi Zakariya a.s., Maryam tumbuh menjadi gadis yang sholehah.

Allah swt memperlihatkan kekuasaan-Nya kepada Zakariya a.s. melalui Maryam. Suatu hari saat hendak menemui Maryam di mihrab, Zakariya melihat makanan berada di dekat Maryam. Entah dari mana datangnya makanan-makanan itu. Merasa heran, Zakariya a.s. bertanya pada Maryam asal-usul makanan itu. “Makanan itu dari sisi Allah.” Jawab Maryam. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab.

Nabi Zakariya a.s. telah melihat kebesaran Ilahi. Hal seperti itu menumbuhkan optimisme-nya sehingga mantap ia berdoa kepada Tuhan, “Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa.”

Melihat kebesaran Ilahi bisa menambah keyakinan. Doa Nabi Zakariya ini sudah dijawab oleh Allah swt. Jibril sudah mengabari bahwa Nabi Zakariya a.s. akan dianugerahi seorang anak bernama Yahya. Tapi Nabi Zakariya masih bertanya, “Ya Tuhanku, bagaimana aku bisa mendapat anak sedang aku telah sangat tua dan isteriku pun seorang yang mandul?.” Maka Allah memberi tanda dengan tidak dapatnya Nabi Zakariya a.s. bercakap-cakap dengan orang lain selama tiga hari kecuali dengan isyarat. Dan itu juga merupakan tanda kebesaran Allah swt.

Kisah seperti ini bisa kita temui dalam Al-Qur’an surat Ali-Imran ayat 36-41.

Nabi Ibrahim a.s., sang Kekasih Allah, masih butuh untuk menyaksikan langsung kebesaran Ilahi. “Aku telah meyakinkannya, akan tetapi agar hatiku tetap mantap (dengan imanku)” (QS 2:260) Begitu alasan Ibrahim a.s. ketika ia meminta Tuhan untuk memperlihatkannya bagaimana Tuhan menghidupkan orang yang mati. Bila seorang nabi masih butuh untuk menyaksikan kebesaran Allah swt sebagai penguat imannya, maka bagaimana dengan kita?

Allah swt telah menyuruh kita memperhatikan kebesaran-Nya. Salah satu peristiwa yang sering dipaparkan dalam Al-Quran adalah tentang hujan yang menumbuhkan bumi yang mati. Salah satunya dalam surat Ar-Rum (30) ayat 48-50

“Allah, Dialah yang mengirim angin, lalu angin itu menggerakkan awan dan Allah membentangkannya di langit menurut yang dikehendaki-Nya, dan menjadikannya bergumpal-gumpal; lalu kamu lihat hujan keluar dari celah-celahnya, maka apabila hujan itu turun mengenai hamba-hamba-Nya yang dikehendakiNya, tiba-tiba mereka menjadi gembira. Dan Sesungguhnya sebelum hujan diturunkan kepada mereka, mereka benar-benar telah berputus asa. Maka perhatikanlah bekas-bekas rahmat Allah, bagaimana Allah menghidupkan bumi yang sudah mati. Sesungguhnya (Tuhan yang berkuasa seperti) demikian benar-benar (berkuasa) menghidupkan orang-orang yang telah mati. Dan Dia Maha Kuasa atas segala sesuatu.”

Merenungi fenomena hujan yang menghidupkan bumi yang mati itu cukup efektif untuk memelihara optimisme kita. Bumi yang mati itu seolah-olah hati kita yang sudah berputus asa. Tapi pertolongan Allah membuat hati kita hidup lagi. Ceria lagi. Kita pun menyadari bahwa tak ada gunanya putus asa itu.

Dan tak perlu jauh-jauh untuk memperhatikan kebesaran Ilahi. Firman Allah swt: “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?” (QS 50: 20-21)

Saya yakin bahwa masing-masing kita memiliki pengalaman saat doa kita dikabulkan. Itu cukup menjadi amunisi untuk meyakini bahwa Allah swt maha luas rahmat-Nya untuk menolong setiap permasalahan kita. Sebenarnya, masalah yang menimpa kita itu juga merupakan tanda kebesaran Ilahi. Dan Allah memperlihatkan kebesarannya melalui masalah yang menimpa kita, bukan untuk membuat kita menyerah. Justru menjadi sarana kita untuk semakin merendahkan diri kepada Allah swt dan meminta datangnya kekuasaan-Nya yang lain, yaitu jalan keluar dari masalah yang kita hadapi.

About Zico Alviandri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *