Kalau Benar Masih Ada Iman di Hati Kita

By on Apr 28, 2015
Allah di dalam hati

Setiap orang terbuka untuk menyatakan keimanan kepada Allah swt. Dan memang, ulama pun mengatakan bahwa syahadat itu sesuatu yang harus dinyatakan. Atau lengkapnya, syahadat itu dinyatakan dengan lisan, dibenarkan oleh hati, dan diamalkan dalam perbuatan.

Tetapi pada akhirnya kembali kepada Allah swt yang menguji keimanan seseorang. Sebagaimana yang Allah firmankan dalam Al-Ankabut ayat 2 & 3.

“Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan (saja) mengatakan, “Kami telah beriman,” sementara mereka tidak diuji lagi? Dansungguh Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka, Allah pun betul-betul mengetahui orang-orang yang benar dan Dia betul-betul mengetahui orang-orang yang berdusta.”

Ada berbagai macam bentuk ujian dari Allah swt. Tak hanya kesusahan, tetapi juga kelapangan. Tak hanya musibah, tapi juga nikmat. Dan Allah juga menguji komitmen dan keberpihakan seseorang kepada Islam.

Salah satu bentuk ujian dari Allah swt kepada hamba-Nya adalah dengan diperlihatkan kepada sebuah maksiat. Lalu reaksi seorang hamba akan menunjukkan tingkat keimanannya. Seperti dalam sebuah sabda Rasulullah saw:

Dari Abu Sa’id Al Khudri radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, ‘Barang siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia merubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman.’.” (HR. Muslim)

Rasulullah saw menetapkan standard terlemah iman seseorang, yaitu masih adanya pengingkaran atau penolakan di hatinya terhadap sebuah kemunkaran, sementara ia tak kuasa mencegah kemungkaran itu terjadi.

Di atas itu, keimanan yang lebih tinggi membuat seseorang bergerak mempropagandakan perlawanan atas kemungkaran. Ia tak hanya diam, namun bersuara lantang.

Dan di atas itu semua, adalah seseorang yang bergerak atas keimanan, mencegah kemungkaran melalui kekuasaannya. Itu lah keimanan yang teruji.

Reaksi lainnya tak mendapat tempat dalam scope pembuktian keimanan. Seseorang yang diam dan cuek atas kemungkaran di hadapannya, atau diam karena setuju, atau mendukung terjadinya kemungkaran, atau bahkan menjadi barisan terdepan membela kemungkaran, sama sekali tidak mendapat tempat dalam ukuran keimanan.

Seperti apa sikap kita?

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

One Comment

  1. Pingback: Ballighu ‘Anni Walau Ayah - Muslim Politan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *