Sujud Tilawah

By on May 30, 2015
sujud

Salah satu bentuk interaksi dengan Al-Qur’an adalah melakukan aktivitas tertentu sesuai bacaan. Di suatu riwayat, Rasulullah membaca “amiin” bila bertemu ayat yang berbunyi “… waladh-dhoolliin.” Rasulullah juga bertasbih manakala bertemu ayat yang berbunyi “Sabbihisma..” Dan yang juga Rasulullah contohkan adalah bersujud ketika mendengar atau membaca ayat-ayat tertentu, yaitu yang disebut dengan ayat sajadah.

Sujud yang dilakukan saat bertemu ayat sajadah disebut sujud tilawah. Aktivitas ini dituntun seperti dalam hadits yang diwartakan oleh Abu Hurairah, “Jika anak Adam membaca ayat sajadah, lalu dia sujud, maka setan akan menjauhinya sambil menangis. Setan pun akan berkata-kata: “Celaka aku. Anak Adam disuruh sujud, dia pun bersujud, maka baginya surga. Sedangkan aku sendiri diperintahkan untuk sujud, namun aku enggan, sehingga aku pantas mendapatkan neraka.” (HR. Muslim no. 81)

Hadits lainnya berbunyi seperti berikut, “Nabi shallalahu ‘alaihi wa sallam pernah membaca Al Qur’an yang di dalamnya terdapat ayat sajadah. Kemudian ketika itu beliau bersujud, kami pun ikut bersujud bersamanya sampai-sampai di antara kami tidak mendapati tempat karena posisi dahinya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ayat-ayat sajadah ada pada beberapa tempat, antara lain:

1.  Surat Al A’rof ayat 206

2.  Surat Ar Ro’du ayat 15

3.  Surat An Nahl ayat 49-50

4.  Surat Al Isro’ ayat 107-109

5.  Surat Maryam ayat 58

6.  Surat Al Hajj ayat 18

7.  Surat Al Furqon ayat 60

8.  Surat An Naml ayat 25-26

9.  Surat As Sajdah ayat 15

10. Surat Fushilat ayat 38

11. Surat Shaad ayat 24

12. Surat An Najm ayat 62

13. Surat Al Insyiqaq ayat 20-21

14. Surat Al ‘Alaq ayat 19

15. Surat Al-Hajj ayat 77

Ayat yang para ulama berselisih apakah termasuk ayat sajadah atau tidak antara lain pada surat Shaad ayat 24, surat An Najm ayat 62, surat Al Insyiqaq ayat 20-21, surat Al ‘Alaq ayat 19, dan surat Al-Hajj ayat 77.

Biasanya pada mushaf yang kita punya, ada lambang berbentuk kubah atau symbol tertentu yang menjadi penanda ayat sajadah. Bila belum hafal letak ayat sajadah, symbol itu sangat membantu. Dan umumnya mushaf-mushaf yang ada mencantumkan tanda ayat sajadah pada ayat-ayat yang diperselisihkan ulama seperti di atas.

Bacaan sujud tilawah adalah sebagai berikut:

سَجَدَ وَجْهِي لِلَّذِي خَلَقَهُ، وَشَقَّ سَمْعَهُ وَبَصَرَهُ بِحَوْلِهِ وَقُوَّتِهِ، فَتَبَارَكَ اللَّهُ أَحْسَنُ الْخَالِقِينَ
(sajada wajhii lilladzi wasyaqqo sam’ahu wabashorohu bi hawlihi wa quwwatihi fatabaarokallahu ahsanul khooliqiin)
Bacaan ini diriwayatkan oleh Abu Daud, Tirmidzi, dan Nasa’i.

Para ulama berbeda pendapat mengenai derajat keshohihan hadits di atas. Namun kita bisa memilih untuk membaca bacaan sujud dalam sholat yang lebih shohih. Seperti

سُبْحَانَ رَبِّىَ الأَعْلَى  atau  سُبْحَانَكَ اللَّهُمَّ رَبَّنَا وَبِحَمْدِكَ ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِى dan lain sebagainya.
Sujud tilawah ini bisa dilakukan saat sholat, atau di luar sholat.

Apabila sujud tilawah dilakukan saat sholat, maka setelah membaca ayat sajadah kita bertakbir lalu sujud dan membaca bacaan sujud tilawah. Setelah itu bangkit tanpa mengangkat tangan dan berdiri melanjutkan membaca surat seperti semula.

Bila dalam posisi makmum, maka kita menunggu aba-aba dari imam untuk sujud tilawah. Bila imam sujud, makmum mengikutinya. Namun bisa saja imam tidak sujud tilawah dan meneruskan membaca ayat selanjutnya, maka makmum mengikuti imam tidak sujud tilawah.

Ada perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai takbir saat hendak melakukan sujud tilawah. Syaikh Al-Albani termasuk yang berpendapat tidak ada takbir saat melakukan sujud tilawah. Sedangkan pendapat yang mengatakan adanya takbir saat sujud tilawah dipegang oleh empat mazhab dan nampaknya merupakan pendapat mayoritas ulama.

Ibnu Taimiyah pun berkata dalam Majmu Fatawa-nya, “Sujud tilawah ketika membaca ayat sajadah tidaklah disyari’atkan untuk takbiratul ihram, juga tidak disyari’atkan untuk salam. Inilah ajaran yang sudah ma’ruf dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, juga dianut oleh para ulama salaf, dan inilah pendapat para imam yang telah masyhur.”

Adapun sujud tilawah yang dilakukan di luar sholat, saat kita membaca atau mendengar orang lain membaca ayat sajadah, maka kita melakukan sujud dengan menghadap kiblat tanpa mengucapkan takbir.

Persoalan apakah harus menghadap kiblat atau tidak, Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa mengatakan bahwa sujud tilawah bukanlah sholat sehingga tidak harus menghadap kiblat. Juga tidak disyariatkan untuk berwudhu’. Namun lebih utama bila seseorang yang mengerjakan sujud tilawah itu dalam keadaan berwudhu’ dan menghadap kiblat. Dalam suatu hadits riwayat Bukhori diceritakan bahwa Ibnu Umar pernah melakukan sujud tilawah tanpa berwudhu’.

Sujud tilawah ini hukumnya sunnah (sebagaian ulama berpendapat wajib). Dalilnya adalah,

“Aku membacakan surat An-Najm kepada Nabi saw dan kamipun tidak bersujud.” (HR. Daaruquthni)

“Aku pernah membacakan pada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam surat An Najm, (tatkala bertemu pada ayat sajadah dalam surat tersebut) beliau tidak bersujud.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Umar bin Khattab r.a. pada suatu jumat saat ia menjadi khotib pernah membaca ayat sajadah. Kemudian beliau melakukan sujud, dan para jamaah sholat jumat mengikutinya. Kemudian di pekan berikutnya Umar bin Khattab r.a. membaca ayat yang sama, ayat sajadah dalam surat An-Nahl, namun beliau tidak sujud. Beliau berkata “Wahai sekalian manusia. Kita telah melewati ayat sajadah. Barangsiapa bersujud, maka dia mendapatkan pahala. Barangsiapa yang tidak bersujud, dia tidak berdosa.” (HR Bukhori)

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *