Mahasiswa Telat Bangun

By on Sep 28, 2015
Rental PS

Melihat dari kejauhan lelaki umur 30 tahunan dengan jacket hijau hitamnya, terlihat guratan lelah dimatanya. Keringat mengucur, siap mengantarkan kembali pelanggan yang sudah menekan tombol online pesanan. Kabarnya tukang ojek online ini masa mudanya dihabiskan dengan kuliah tapi terpental karena persaingan jobseeker semakin ganas dan diprediksi ratusan sarjana mendaftar ingin menggeluti profesi ini daripada tidak bekerja. Hidup harus jalan terus, akhirnya apapun dilakukan yang penting halal.

Di sudut ruang kelas kampus dikawasan Bogor, kelas ekstensi penuh. Para peniti karier atau yang benar-benar berkeinginan belajar tumpah ruah dikelas. Setelah dianalisa ternyata peserta kelas ekstensi sebagian besar mahasiswa pagi yang kuliahnya banyak bolong-bolong. Usut punya usut ternyata mereka tidak bisa menyelesaikan kuliah dipagi harinya karena tidak bisa bangun pagi. Selalu telat. Malamnya begadang, asyik kongkow, main PS semalam suntuk, ya jelas saja besoknya badan kurang fit tak bisa menerima pelajaran dengan baik. Kalau pun lulus akhirnya hanya sekedar saja. Kompetensi tidak ada, etos kerja lemah akhirnya terpental dari persaingan sengit pencari kerja.

Ujung-ujungnya Ojek online menjadi bemper anti krisis. Inilah korelasinya, seorang Nadiem Makarim pemilik Go-Jek menjadi solusi bagi permasalahan ekonomi bangsa. Pragmatisme menemukan solusinya padahal ini bukanlah solusi jangka panjang dalam menguatkan angkatan kerja di Indonesia. Pendidikan tidak berbanding lurus dengan skil.

Beberapa tahun belakangan mulai banyak timbul Interest Group yang mencoba untuk menjadi solusi bagi para Start up. Anak-anak muda dengan segala keterbatasan fasilitas berkumpul membentuk komunitas-komunitas usaha, merekrut mahasiswa tingkat akhir, mengubah paradigmanya: lulus kuliah bukan berarti harus kerja. Masih ada alternatif solusi lain, jadilah startup!

Entrepreneurs menjadi solusi. Membuat kreasi, membangun tim membuat produk, tawarkan ke angel investor, proposal diaccept, dampaknya leverage berkali lipat didapat yang akhirnya membuka lapangan kerja. Solusi bagi masalah ekonomi bangsa.

Link and match perguruan tinggi, mestinya match-nya bukan hanya untuk jobseeker yang ditampung di barak-barak industri itu. Tanpa kompetensi, harus dilatih kembali, kemudian kompetensi tidak mumpuni.

Nah link and match saat ini harus menyentuh ke Starup Opportunity bukan hanya Job Opportunity. Para mahasiswa harus sudah disadari dari awal, paradigma sebaiknya mulai diubah bagaimana kiranya ketika keluar dari perguruan tinggi mereka berlomba-lomba membuat produk terbaik hingga opportunity terbaik dalam mencari solusi bagi para client, bukan berlomba-lomba menjadi Job seeker.

Ambil contoh Mahasiswa Fakultas Hukum. Mata kuliah yang mereka terima cukup aplikatif dari urusan legal drafting, perikatan legal, menjadi calon-calon notaris hingga pengadilan semu yang mereka sudah simulasikan. Dari pembuatan legal drafting saja cukup besar fee yg mereka terima. Lebih baik perguruan tinggi membuat spesialisasi dibidang-bidang tersebut. Mencoba melatih mahasiswa tingkat akhir dibidang-bidang tersebut. Object yang lebih spesifik, sehingga pada saat keluar mereka sdh siap menjadi konsultan-konsultan yg nebeng kepada para senior yang akhirnya para junior menjadi mandiri.

Contoh lainnya, mahasiswa teknik, ekonomi atau Ilmu Komputer pada tingkat akhir, betapa banyak opportunity yang mereka bisa tawarkan. Produk-produk aplikasi di dalam gadget seperti yang dilakukan oleh Nadiem Makarim dengan Aplikasi Gojek nya sudah menjadi solusi jitu untuk memudahkan orang mencari ojek. Ribuan orang mendapatkan solusi dari aplikasi tersebut.

Yang jelas dan pasti para pemangku kepentingan di perguruan tinggi sudah lebih paham solusi apa yang bisa dilakukan untuk menciptakan para starup ini. Ubah paradigma perguruan tinggi bukan menciptakan Jobseeker Centre tapi Opportunity Startup Centre (OSC). Atau apabila dirasa belum siap dalam membuat OSC, lebih baik menggandeng Komunitas bisnis yang sudah eksis, yang sudah menelurkan ratusan pengusaha baru starup tangguh. Contoh yang sudah ada HIPMI dengan HIPMI Kampusnya, Komunitas Tangan Di Atas dengan TDA Kampusnya, dan masih banyak yang lainnya. Program yang mereka lakukan sudah cukup komphensif

Ambil contoh saja Komunitas Tangan Di Atas, mereka sudah membentuk Kelompok Mentoring Bisnis(KMB) di wilayah masing-masing. Ratusan KMB Starup sudah terbentuk dan hasilnya tidak mengecewakan. Terbentuk sudah pengusaha-pengusaha baru. Dan puncaknya perhelatan Pesta Wirausaha menjadi ajang tahunan yang dilakukan oleh TDA untuk meleverage pengusaha-pengusaha baru tersebut. Sinergi dengan Komunitas ini tidak ada salahnya. Lebih baik memulai bersinergi dari sekarang  dari pada menyesal terlambat karena Opportunity hilang di depan mata. Apalagi era MEA sebentar lagi akan tiba. Yang lambat mengambil peluang akan tergilas, yang cerdik menangkap peluang akan menjadi pemenang. Hingga tidak ada lagi didengar mahasiswa yang telat bangun pagi.

–Salamberbagi–

Rudi Sahputra S.Si

Ka.Klub Properti TDA Depok v.3.0

Klub Properti TDA Depok berada dibawah naungan Komunitas Tangan Diatas Wilayah Depok,komunitas pebisnis yang beranggotakan dari level starup hingga advance,klub properti salah satu klub dibawah TDA Depok dengan Tagline “Berbagi Ilmu Mencari Solusi”,yang salah satu tujuannya membentuk developer2 properti baru hingga membuat sinergi Industri Properti dengan sesama anggotanya.

 

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *