Menjelang Akhir Masa Musim Bisnis Batu Akik

By on Sep 10, 2015
batu akik

Seperti yang banyak diramalkan orang, bisnis batu akik hanya menjadi bisnis musiman. Sesaat bersinar, lalu ada masanya redup.

Belakangan ini tanda redupnya bisnis tersebut mulai terlihat. Selain karena sudah pudarnya eforia kegemaran batu akik, daya beli masyarakat yang turun pun turut mempengaruhinya.

Kondisi ini diakui oleh Andre (45 tahun), pedagang akik yang berjualan di pasar Rawa Bening, Jatinegara, Jakarta Timur.

“Dulu sehari bisa dapat Rp50 juta, sekarang dapat Rp5 juta saja sudah bersyukur,” katanya seperti dilansir viva Rabu 9 September 2015.

Sejak lebaran Idul Fitri lalu, pengunjung semakin turun. Mirisnya, kondisi penurunan ini tidak terjadi secara berangsur-angsur, namun langsung turun drastis sehingga membuat para pedagang.

“Setiap hari semakin sepi, yang datang pun bisa dihitung. Beda dengan beberapa waktu lalu, yang untuk jalan saja susah, karena banyaknya pengunjung,” terangnya.

Tak hanya turun pamor, harga batu akik pun turun drastis sehingga membuat penggunanya buru-buru menjualnya kembali.

Tribunnews meliput di Kota Palembang. Didapat pengakuan seorang pedagang di kawasan Cinde bernama Zainal.

“Penurunan sih sudah terlihat dari akhir Ramadan hingga sekarang, malah banyak yang jual batu akik mereka daripada membeli,” ujarnya, Rabu (9 September 2015).

Pedagang lain bernama Amin, bercerita saat ditemui tengah menjual batu jenis bacan miliknya.

“Harga jualnya sangat jauh merosot, saya belinya hampir Rp 10 juta, eh pas dijual dibeli pedagang Rp 200 ribu doang,” tukasnya.

Karakter masyararakat kita ini sepertinya musiman, termasuk saya, dulu kepincut beli bacan karena ikut-ikutan fenomena batu aki. Namun, saat sudah mulai redup yah saya mulai jual lagi,” tambahnya.

Beralih ke Aceh, Ketua Gabungan Pencita Batu Alam (Gapba), Nazaruddin mengamini redupnya bisnis batu akik.

“Sekarang coba lihat Mall Meulaboh yang dulunya membludak penjual dan pembeli, hari ini sudah sepi. Masyarakat saat ini sudah terjepit perekonomian tentunya berdampak pada daya beli terhadap aneka batu alam,” tegasnya seperti dikutip beritasatu, Ahad (6 September 2015).

Nazaruddin menjelaskan, selain dipengaruhi oleh rendahnya daya beli, kondisi fluktuasinya harga batu akik Aceh sangat berpengaruh terhadap pasar karena tidak memiliki standar harga yang jelas diatur dalam sebuah regulasi pemerintah.

Akibatnya para pedagang batu akik pun mulai beralih profesi. Sampai-sampai ada yang memilih menjadi kurir dan pengedar video porno.

Republika memuat cerita Randi Sitogi (32 tahun) yang datang dari Medan ke Jakarta semula hendak berbisnis batu akik. Namun karena bisnis itu tak lagi menjanjikan, ia berhenti dan beralih profesi.

“Saya kepepet, daripada gak ada uang. Saya samperin si R. Saya mau minjam uang ke dia. Tapi dia suruh saya jadi kurir,” ujar Randi kepada Republika, Senin (7 September 2015).

Namun hobi batu akik akan tetap ada meski bisnisnya sudah surut. Sebelum bisnis ini meledak dua-tiga tahun belakangan, para penggemar cincin berbatu tembus cahaya ini sudah ada sejak lama. Dan sebagai perhiasan, tentu tetap akan ada yang meminati meski musimnya telah berlalu.

(Baca juga: Monkey Bussiness Dan Sebuah Interospeksi Untuk Bisnis Kita)

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *