Kongkow Sepulang Kerja, Ada Panduannya Bagi Seorang Muslim

By on Jan 14, 2016
Hangout sepulang kantor

Sebuah standing banner berdiri di lantai dasar sebuah gedung perkantoran menampilkan iklan produk bir. Tertera dalam standing banner itu ajakan untuk kongkow-kongkow sepulang kerja dengan teman sembari menikmati bir daripada nekad menerobos kemacetan.

Membaca pesan iklan bir itu, akal saya terusik. Bayangan saya iklan ini mengajak orang untuk kongkow dulu sembari minum bir menunggu macet reda, setelah lalu lintas lancar barulah jalan membawa kendaraan dengan kondisi tubuh sedang dalam pengaruh bir. Begitukah?

Memang boleh-boleh saja kongkow dengan teman sepulang kerja. Ada yang karena ingin menunggu lalu lintas lancar, ada yang karena ingin refreshing, dsb.

Namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan mengenai kongkow sepulang kerja ini.

Jangan Abaikan Hak Keluarga Anda

Anak dan pasangan di rumah mengerti bahwa Anda harus bekerja. Mereka merelakan sekitar 10 jam tidak bertemu Anda. Namun, mereka tetap butuh dan berhak waktu berkualitas bersama Anda.

Bila kongkow-kongkow itu membuat Anda pulang lebih telat, maka jangan kongkow setiap hari. Demi ketahanan keluarga, waktu berkualitas itu penting. Wajah ceria anak atau pasangan yang menyambut Anda di pintu rumah merupakan hal yang sangat indah dalam hidup. Jangan kehilangan itu! Jangan sampai saat Anda pulang, mereka telah terlelap.

Jangan Untuk Maksiat

Tentu saja iklan yang disinggung di atas sangat tidak pantas dikerjakan seorang muslim. Meminum khamr adalah dosa besar. Kongkow boleh saja selama tidak dihiasi perbuatan maksiat.

Hindari juga menggunjing (ghibah) orang lain. Biasanya bila kumpul-kumpul dengan kawan, ada godaan untuk menggosip.

Pilih Pembicaraan yang Bermanfaat

Saat berkumpul bersama teman, susah rasanya mengendalikan bahan pembicaraan. Obrolan bergulir dari satu topik ke topik yang lain.

Tapi mungkin saja dari obrolan itu tercetus ide-ide yang positif. Entah itu berupa peluang bisnis yang bisa digarap bersama, atau amal sosial, dll.

Watak Orang Beriman: Menghindari Perkataan dan Perbuatan yang Tidak Bermanfaat

Ciri-ciri orang mukmin seperti yang Allah paparkan dalam Qur’an surat Al-Mu’minuun di antaranya adalah menghindari perbuatan dan perkataan yang melalaikan.

“Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang khusyu’ dalam sembahyangnya, dan orang-orang yang menjauhkan diri dari (perbuatan dan perkataan) yang tiada berguna.”

Menjalin keakraban dengan rekan sekantor tentu bukan sesuatu yang dilarang. Namun tetap jaga karakter seorang mukmin agar pembicaraan dan perbuatan selama kongkow tidak dalam hal yang “laghwun”, atau melalaikan. Lalai dari mengingat Allah, lalai dari kewajiban-kewajibannya sebagai seorang muslim, lalai dari aturan Islam tentang akhlak, dsb.

Laghwun adalah prakondisi sebelum melakukan maksiat. Ketika diri sudah melupakan Allah, maka setan mudah menuntun untuk berbuat maksiat.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *