Sakinah Mawadah Warahmah: Proses Terbentuknya Cinta dalam Pernikahan

By on Jan 12, 2016
pasutri muslim

Dari mana datangnya lintah? Dari sawah turun ke kali.
Dari mana datangnya cinta? Dari mata turun ke hati.

Begitu bunyi pantun lama. Mengisahkan tentang terbentuknya cinta di dalam hati anak manusia.

Dalam dongeng atau pun roman picisan yang berakhir happy ending, biasanya akhir cerita akan mengisahkan sepasang manusia yang saling mencintai akan menikah dan hidup selamanya. Seolah cinta menjadi penjamin sepasang manusia mampu bertahan dalam ikatan perkawinan.

Padahal membangun rumah tangga tak sesederhana itu: ekspresikan cinta, lalu bahagia selamanya. Gambaran itu terlalu manis dan bisa menipu pemuda/pemudi yang hendak menjalin pernikahan.

Dalam Al-Qur’an, pernikahan tidak digambarkan sebagai muara dari cinta yang tumbuh di hati dua anak muda. Tetapi justru pernikahan membentuk cinta dari dua anak manusia yang bersatu. Pernikahanlah yang menyebabkan cinta!

Tahapan terbentuknya cinta sebagai buah dari perkawinan digambarkan dalam Al-Qur’an surat Ar-Ruum ayat 21. Ayat ini cukup populer karena sering disertakan dalam undangan pernikahan.

“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS: Ar-Ruum:21)

Dari ayat ini, muncul kata-kata terkenal: sakinah, mawaddah, warohmah.

Sakinah atau Rasa Tenteram

“Litaskunu” kata Allah swt. Agar kamu menjadi tenang atau tenteram atau nyaman dengan adanya pasangan hidup. Sakinah.

Pernikahan menghapus predikat “jomblo galau”. Dengan pernikahan, tak ada lagi kegelisahan saat nafsu datang. Ada tempat untuk melampiaskan dengan nyaman tanpa rasa takut operasi satpol PP ataupun penyakit menular.

Sebagai teman, pasangan hidup membuat tenang dengan tempat menumpahkan perasaan suka dan duka juga sebagai kawan berjuang mencapai kemapanan bersama.

Inilah pernikahan yang diharapkan oleh Al-Qur’an. Bukan pernikahan yang selalu diliputi kecemburuan, kecurigaan, dan tuntutan alih-alih mau menerima apa adanya.

Mawaddah wa Rohmah, atau Cinta dan Harapan

Lalu Allah swt melanjutkan dengan kata-kata “wa ja’ala baynakum mawaddah wa rohmah”, “dan dijadikan-Nya di antaramu rasa cinta dan kasih sayang.”

Mawaddah wa rohmah, cinta dan kasih sayang, merupakan buah dari rasa nyaman kepada pasangan.

Allah memilih kata mawaddah, bukan mahabbah. Ada yang mengartikan karena mawaddah adalah cinta yang terus menerus tanpa mengharap balasan. Sedang mahabbah adalah cinta yang berharap balas.

Tentu makna ini berarti cinta yang tulus. Ada kisah mengharukan tentang suami yang rela merawat istri yang lumpuh. Atau istri yang tetap setia menemani suami yang bisnisnya sedang terpuruk. Itu adalah mawaddah. Dan sangat pas untuk konteks pernikahan.

Atau ada juga yang mengartikan mahabbah berarti cinta yang meluap-luap dan bergejolak. Sedangkan mawaddah berarti cinta yang lebih dewasa.

Arti yang lebih ringkas, mawaddah bermakna cinta dan harapan.

Sedangkan rahmah adalah kasih sayang. Ekspresi menyantuni, merawat, dan memelihara, dsb.

Jadi, jalan terbentuknya cinta dan kasih sayang harus didahului dengan perasaan tenteram terhadap pasangan. Orientasi awal pernikahan adalah bagaimana menyelaraskan perilaku sehingga lahir kesepahaman dan kenyamanan. Tidak harus memeriahkannya dengan bulan madu yang romantis yang berorientasi kesenangan belaka.

Di awal pernikahan, terkuaknya sifat buruk pasangan justru bermanfaat sebagai informasi tentangnya yang akan kita sikapi – baik bersabar maupun mencoba membantunya berubah. Dan terlihatnya kebaikan pasangan adalah hal yang harus selalu dikenang untuk disyukuri dan menjadi pengokoh rasa nyaman kepadanya.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *