Sebelum Menilai dan Meremehkan Orang Lain

By on Jan 15, 2016
merendahkan orang lain

Ada kalanya diri tergoda oleh perasaan merasa lebih dibanding yang lain. Saat telah merengkuh banyak capaian, merasa telah banyak prestasi, lantas meremehkan orang lain.

Islam menyebutnya istilah itu ghurur, tertipu dengan pandangan terhadap diri sendiri. Atau masuk dalam definisi kibr (sombong): menolak kebenaran dan merendahkan orang lain.

Ada sebuah kisah menohok yang dapat dijadikan pelajaran.

Suatu hari seorang profesor menyewa sebuah sampan untuk membuat kajian di tengah lautan. Pendayung itu merupakan lelaki tua yang sangat pendiam. Profesor sengaja mengupah lelaki tua itu kerana dia tidak mahu orang yang menemaninya banyak menyoal tentang apa yang dia lakukan.

Dengan tekun Profesor itu melakukan tugasnya tanpa menghiraukan pendayung sampan. Dia mengambil air laut dan diisi kedalam tabung uji, digoncang-goncang, kemudian mencatat sesuatu di dalam buku catatan dibawanya. Berjam-jam lamanya Profesor itu melakukan kajian dengan tekun sekali. Pendayung sampan mendongak ke langit, memandang pada awan yang mula berarak kelabu. Dalam hati dia berkata “Hmm..tak lama hujan lebat akan turun..”

“OK semua sudah siap mari kita balik.” Lantas pendayung itu memusingkan sampannya dan mula mendayung ke arah pantai. Dalam perjalanan itu baru Profesor itu membuka mulut menegur pendayung sampan.

“Dah lama kamu mendayung sampan?” Tanya Profesor kepada pendayung sampan. “Hmm..hampir seumur hidupku,” jawab si pendayung ringkas.

“Seumur hidup kamu? Jadi kamu tidak tahu apa-apa selain mendayung sampan?” tanya Profesor itu lagi.

“Ya..”jawab pendayung sampan dengan ringkas.

Profesor belum berpuas hati dengan jawapan pendayung tua itu. “Kamu tahu Geografi?” Si pendayung menggeleng..

“Kalau begitu kamu hilang 25% dari usia hidup kamu.” “Kamu tahu Biologi?”tanya Profesor itu lagi. Pendayung sampan itu menggeleng lagi.

“Kasihan kamu telah kehilangan 50% dari usia kamu.”

“Kamu tahu Fizik?” Profesor itu masih bertanya. Seperti tadi pendayung sampan itu hanya menggeleng.

“Sungguh kasihan kalau begitu kamu telah kehilangan 75% usia kamu.Malang sungguh nasib kamu semuanya tidak tahu. Seluruh hidup kamu hanya dihabiskan dengan sampan,tak ada gunanya lagi,” Profesor itu mengejek dan berkata dengan angkuh setelah merasakan dirinya yang terhebat. Pendayung sampan hanya mendiamkan diri.

Selang beberapa minit kemudian hujan turun dengan lebat, tiba-tiba ombak besar datang melanda. Sampan yang mereka naiki terbalik. Profesor dan pendayung sampan terpelanting. Sempat pula pendayung itu bertanya, “Kamu tahu berenang?” Profesor hanya menggeleng.

“Sayang sekali kamu telah kehilangan 100% nyawa kamu.” Kata pendayung itu sambil berenang ke pantai meninggalkan Profesor yang angkuh.

*****

Dari kisah di atas terpetik sebuah hikmah. Bahwa perasaan angkuh yang timbul karena penilaian yang lebih pada diri sendiri sesungguhnya tak berarti. Karena bisa jadi seorang yang kita anggap kekurangan sebenarnya ia lebih kaya dari kita.

Kisah ini mengingatkan kita pada kisah Musa a.s. yang suatu kali menyangka bahwa dirinya yang paling berilmu di muka bumi. Bagaimana tidak, Musa a.s. telah membawa umatnya merdeka dari Fir’aun, menyebrang melintasi Laut Merah, diizinkan ‘berbicara’ langsung dengan Allah swt, dan kelebihan lain. Kisah ini ada pada surat Al-Kahfi 60-82.

Hingga Allah swt menyuruhnya menemui seseorang bernama Khidir. Dan pertemuan dengan Khidir menyadarkan Musa a.s. bahwa orang lain memiliki sisi kelebihan lain daripada dirinya.

Jangan pernah meremehkan orang lain!

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *