Sikap Seorang Entrepreneur: Bermain yang Serius

By on Jan 25, 2016
Permainan Bisnis

Satu hal yang menarik aku dapatkan ketika bertemu dengan rekan-rekan keturunan Tionghoa, salah satunya melalui pertanyaan ini; “Sedang main apa sekarang, Pak?”, demikian juga sebaliknya, aku jadi ikut-ikutan menggunakan istilah “main” tersebut.

Lalu apa jawabannya? Umumnya jawaban seperti “main batubara”, “main minyak”, serta “main” yang lainnya akan kita temukan dari mereka. Loh, Batubara, minyak, semen, besi, semen, mobil, serta barang-barang lainnya dengan jumlah banyak dan duit jutaan hingga milyaran kok dibuat main-main? Hehehe…

Pengertiannya bukan begitu, Sahabat. Istilah “main” itu sendiri sejatinya mereka gunakan sebagai pengganti kata “bisnis” atau “usaha” yang sedang digeluti. Jadi bukan “main” layaknya apa yang kita pahami selama ini sebagai suatu perbuatan bersenang-senang atau hal-hal yang tidak serius kita lakukan.

Lazimnya di antara mereka berhitung sangat detail tentang untung-rugi, modal, peluang, membaca kekuatan serta kelemahan kompetitor, dan lain sebagainya dalam aspek bisnis, sehingga bisnis mereka pada akhirnya banyak yang berkembang pesat. Bayangkan saja, seorang rekan yang bergerak di bidang properti di Singapura, masih sempat-sempatnya memikirkan usaha ternak bebek pada lahan yang dibelinya di daerah Sumatera Barat. “Itu ATM saja, Pak,” demikian katanya. Bayangkan, betapa seriusnya mereka membidik peluang yang “berbau” uang dan melihat celah pasar yang terbuka.

Lalu “main-main”-nya dimana? Pada prinsipnya, usaha yang mereka jalankan ini sebagai satu hal yang sangat serius, bahkan penuh dengan kesungguhan. Tetapi dianggap sebagai sebuah passion atau gairah. Sebuah kesenangan! Itu kuncinya. Bisnis dan usaha apapun yang disenangi akan memberikan hasil yang memuaskan ketika kita tidak menganggapnya sebagai suatu beban, bahkan penderitaan. Dengan midnset seperti itu inovasi, kreatifitas, peluang, dan sumber daya bisa dieksplor sedemikian rupa secara maksimal. Di situlah kata “main-main” itu digunakan, sebagai gambaran akan hal-hal yang disenangi.

Bayangkan, dengan hasil usaha yang didasari kesenangan, hasilnya juga akan menyenangkan jiwa dan raga. Kesenangan itu bisa berbentuk senyum kaum dhuafa yang kita beri donasi, berupa senyum anak-anak yatim, serta bila mungkin sebagian hasilnya akan kita gunakan buat jalan-jalan ke luar negeri. Menyenangkan bukan? Itu juga yang ada dalam pikiran mereka, dan aku (bila mungkin kita ya..)

Menarik memang, meski hanya diskusi ringan tentang kata “main” ini versi mereka, namun terasa penuh akan makna. Terlebih bila mengingat apa yang dipesankan Rasulullah saw, perihal sebuah pekerjaan atau usaha yang kita geluti, “berusahalah untuk duniamu seakan engkau akan hidup seribu tahun lagi…”. Wah, lama ya seribu tahun? Ya iya lah, meski umur kita cuma 60 tahun saja, sungguh sakit bila harus menggeluti suatu usaha dalam kondisi tertekan dan tidak bahagia.

Dalam pandanganku, pesan Rasulullah saw terkait hadits ini bukan soal sebuah kesungguhan semata, melainkan juga soal passion dan bagaimana menikmati sebuah usaha sebagai proses mengambil jatah rejeki dari Allah swt. Nggak mungkin kan Rasul yang ma’sum mewasiatkan kerja giat namun tak bahagia?

Ah, rasanya tak salah bila aku juga mulai belajar mengubah mindset, bahwa usaha yang kujalani adalah sebuah kenikmatan, bukan beban apalagi derita, karena bila itu terjadi, Sahabat pasti bisa menebak; “Sakitnya tuh dimanaaa?”, Ya disini! (sambil elus dada sama dompet)! Sejatinya ini pesan dienul Islam, sudah selayaknya kita melaksanakan dan menikmatinya.

So, Seperti judul lagunya The Cranberries; “Everybody else doing it, so why can’t we!” So, Enjoy it!

Eko Wahyudi

 

——

Like Fanspage Muslimpolitan: http://www.facebook.com/muslimpolitan

Twitter: http://twitter.com/muslimpolitan

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

One Comment

  1. Rena Resita

    Mar 10, 2016 at 14:05

    Betul sekali kak, usaha yang dijalankan harus sesuai dengan passion, kalau nggak yang terjadi malah stress. Seperti yang saya alami saat ini.

    Saya memiliki usaha warnet, namun sekarang saya stres dengan kebisingan, keberisikan dalam warnet tersebut, apalagi setelah sadar bahwa membangun warnet dulunya dari hutang riba. Saya jadi nggak karuan, mau nutup warnet belum bisa 🙁

    Perasaan ini benar atau saya yang kurang bersyukur ya kak?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *