Bila Terlanjur Membeli Barang Kemahalan

By on Mar 23, 2016
membeli barang

Saat mendatangi toko yang menjual perlengkapan berkendara di pinggir jalan, Alvi memang buta dengan harga helm. Ia cuma bisa menerka-nerka harga helm yang terpajang di dalam toko tersebut sembari memandangi modelnya satu persatu.

Penjaga toko dengan ramah menyapa dan menawarkan bantuan. Alvi menunjuk ke salah satu helm, meminta agar bisa memeriksanya lebih dekat. Lantas penjaga toko mengambil helm tersebut dan menyodorkannya kepada Alvi. Setelah tawar menawar, disepakati helm tersebut dibeli seharga Rp 340.000. Alvi pulang dengan menenteng helm baru.

Keesokan harinya di kantor, Alvi yang penasaran dengan harga asli helm yang kemarin ia beli melakukan pencarian di toko online. Dan ia mendapati bahwa harga helm tersebut hanya berkisar sekitar Rp 250.000 saja. Alvi tersenyum kecut. Kecewa, memang. Tapi helm itu sudah terlanjur dibeli dari toko yang kemarin ia datangi.

Banyak konsumen yang mengalami kejadian mirip seperti di atas. Membeli barang kemahalan karena tidak mengerti harga. Setelah tahu harga aslinya, rasa kecewa menyergap. Dalam perilaku yang tak terkendali, ada yang sampai mencela dan menyumpahi penjual karena merasa dibohongi.

Tetapi sebagai muslim tidak perlu begitu. Anggaplah kejadian itu musibah, dan kata Rasulullah tidak ada yang buruk atas apa yang menimpa seorang muslim, baik musibah maupun nikmat. Sabdanya,

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusannya adalah baik baginya. Hal ini tidak didapatkan kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila mendapatkan kesenangan, dia bersyukur, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya. Sebaliknya apabila tertimpa kesusahan, dia pun bersabar, maka yang demikian itu merupakan kebaikan baginya.” (HR Muslim)

Penyikapan yang bisa kita lakukan bila mengalami kejadian di atas adalah sebagai berikut:

1. Ridho atas Ketentuan Allah

Pertama kali kita harus menyadari bahwa itu semua terjadi atas izin Allah juga. Dan tragedi membeli barang kemahalan itu telah diaturnya di dalam Lauhul Mahfuzh. Hadirnya kesadaran bahwa Allah yang mengatur, kata Allah, agar kita tidak terlalu kecewa atas apa yang luput.

“Tiada suatu bencanapun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri.” (QS Al Hadid 22-23)

Allah bergantung kepada prasangka hamba-Nya (alhadits). Hadirkan prasangka-prasangka baik kepada Allah agar Ia pun memperlakukan kita dengan baik. Dengan bersikap ridho, maka kita tidak perlu mengumpat si penjual. Jangan sampai sudahlah kita terlanjur membayar kemahalan, bertambah rugi lagi karena mengumpat, tidak ridho, dan berburuk sangka pada-Nya.

Selain itu, relakan juga penjualnya. Karena uang yang kita berikan memang sudah menjadi rezeki dia. Maafkanlah dia, karena memaafkan merupakan akhlak seorang muslim.

2. Harapkan Keberkahan Barang

Ulama mendefinisikan keberkahan sebagai ziyadatul khair, yakni “bertambahnya kebaikan”. Dalam Syarah Shahih Muslim karya Imam Nawawi disebutkan, berkah memiliki dua arti: (1) tumbuh, berkembang, atau bertambah; dan (2) kebaikan yang berkesinambungan.

Berbaiksangkalah kepada Allah bahwa barang yang kita beli kemahalan itu adalah barang yang mengandung berkah. Atau berharaplah kepada Allah agar ia memberi keberkahan atas barang itu. Tentunya setelah kita ridho dan berbaiksangka kepada Allah. Dengan datangnya keberkahan, semoga barang tersebut awet, tak cepat rusak, dan memberi kita kebaikan yang banyak.

Sesungguhnya barang yang telah kita miliki itu adalah pemberian Allah juga. Rasulullah saw pernah bersabda,

“Sungguh, Allah menguji hamba dengan pemberian-Nya. Barangsiapa ridho dengan pembagian Allah terhadapnya, maka Allah akan memberikan keberkahan baginya dan akan memperluasnya. Dan barangsiapa tidak ridho, maka tidak akan mendapatkan keberkahan.” (HR. Ahmad)

Allahua’lam bish-showab.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *