Agar Terhindar Dari Kehidupan Yang Sempit

By on Apr 5, 2016
kehidupan lapang

وَمَنْ أَعْرَضَ عَن ذِكْرِي فَإِنَّ لَهُ مَعِيشَةً ضَنكاً وَنَحْشُرُهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَعْمَى

“Dan barangsiapa yang berpaling dari peringatan-Ku, maka sesungguhnya baginya penghidupan yang sempit, dan Kami akan menghimpunkannya pada hari kiamat dalam keadaan buta”. (QS. Thaha: 124).

Memiliki keimanan adalah modal besar untuk mendapatkan jalan keluar dari berbagai persoalan kehidupan. Asalkan keimanan itu terawat dengan benar. Karena Allah swt yang Menciptakan Kehidupan telah menyediakan Al-Quran dan sunnah sebagai pedoman lifestyle untuk manusia yang berisi tuntunan menuju kehidupan yang selamat dunia akhirat.

Sementara mereka yang tak memiliki keimanan terombang-ambing dalam pencarian ajaran hidup yang memuaskan. Dari bergonta-ganti agama hingga memutuskan tak memiliki agama sama sekali. Saat terbentur masalah, pelarian minuman keras (miras) yang berefek buruk pada tubuh mereka temui. Pada senyum yang mengembang, Allah mengetahui bagaimana sempitnya hati mereka tanpa keimanan.

Allah swt telah memberi wanti-wanti kepada manusia, jangan sampai berpaling dari ajaran-Nya. Sebagaimana pada Quran Surat Thaha ayat 124 di atas, resiko mengabaikan ajaran-Nya adalah kehidupan yang “sempit.”

Para mufassirin mengartikan kata peringatan pada ayat tersebut adalah kitabullah dan dzikrullah. Mengabaikan membaca Qur’an hingga abai untuk menjalankan ajarannya, dan sangat jarang mengingat Allah swt dalam aktivitas sehari-hari, itulah bentuk berpaling dari peringatan-Nya.

Sementara مَعِيشَةً ضَنكاً  (ma’isyatan dhonka) atau kehidupan yang sempit berarti tidak bahagia, sebagaimana yang ditafsirkan oleh Ibnu Abbas yang tercantum dalam tafsir Ibnu katsir. Rasa bahagia terletak dalam hati. Belum tentu penghasilan yang besar membuat bahagia. Bisa saja seseorang berpenghasilan besar lantas memicunya untuk berperilaku konsumtif dan banyak keinginan. Akhirnya ia menimbun hutang yang menyusahkan. Atau sekalipun rezekinya berlimpah, namun hatinya tak pernah puas melihat ada yang rezekinya lebih baik dari dirinya.

Keadaan itu karena tak adanya keimanan. Sifat dasar manusia seperti itu, sedangkan keimanan memperbaiki sifat-sifat sempit hati itu.

“Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan ia berkeluh kesah,  dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir, kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat.” (QS Al-Ma’arij 19-22)

Kehidupan yang lapang tidak berada pada rumah yang luas. Tetapi pada hati yang selalu bersyukur atas pemberian-Nya. Itulah implementasi ajaran Islam. Karena Islam mengajarkan untuk ridho (rela) atas pemberian-Nya, qonaah (merasa cukup), dan bersyukur terhadap nikmat yang Allah berikan.

Allah swt juga mengkondisikan orang yang selalu mengingat-Nya akan mendapatkan ketenangan hati.

“Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tentram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan dzikir hati menjadi tentram.” (Ar-Ra’d : 28)

Maka janganlah melalaikan dzikir kepada Allah swt dan mengabaikan ajaran-Nya. Allah swt yang menciptakan kehidupan. Ia memberi kelapangan hidup bagi yang senantiasa mengingat-Nya dan membuat kehidupan yang sempit untuk orang yang melupakan-Nya.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *