Empat Proses Berfikir yang Jadi Penghalang Perubahan

By on Apr 1, 2016
perubahan

Saat ingin mengubah kebiasaan, atau membangun kebiasaan baru yang baik, sering kali tidak mudah. Ada banyak kendala, alasan, dan godaan yang menguji kesungguhan.  Dalam buku Re-Code Your Change DNA, Rhenald Kasali menulis ada empat hal yang perlu diwaspadai saat memulai kebiasaan yang baik, terutama yang berhubungan dengan fikiran dan persepsi.

1.Potensi vs Limitasi

Kebanyakan manusia ketika menghadapi hal-hal baru lebih banyak melihat dirinya dengan menggunakan kacamata limitasi (keterbatasan-keterbatasan yang ia miliki) daripada potensi (kemungkinan-kemungkinan bisa) yang ia miliki. Banyak orang yang selalu menduga dirinya tidak bisa sebelum mencoba melakukan apa saja yang baru baginya.

Misalnya ketika seorang muslim ingin membiasakan sholat tahajud, yang mau tak mau ia harus mengurangi jam tidurnya, ia dihantui fikiran efek dari kurang tidur. Ia takut tidak fokus kerja di kantor, takut mengantuk saat membawa kendaraan, dll. Ia berfikir tentang limitasi diri daripada potensi diri.

2. Rem Tangan pada Benak Manusia

Banyak orang yang memiliki potensi untuk berkembang tetapi memliki banyak belenggu yang mengikat pikiran-pikirannya. Ibarat seorang yang mengendarai mobil, sekalipun gas sudah dipacu dalam-dalam, mobil tak bisa melaju kencang. Mengapa demikian? Sebabnya adalah, kecepatan terbelenggu oleh sesuatu, yaitu rem tangan yang belum dilepas.

Rem tangan itu kadang berupa belenggu kejadian traumatis atau sukses di masa lalu. Ada yang trauma karena pernah punya atasan yang tak menolerirnya untuk izin sholat dhuha, lantas ia tak mau lagi merutinkan sholat dhuha meski sudah berganti atasan. Atau karena meski tak rajin sholat seseorang itu tetap sukses, lantas ia merasa tak perlu mengubah dirinya agar memenuhi kewajiban dari Allah swt.

3. Keletihan Memulai

Setiapkali memulai sesuatu yang baru maka kita mengaktifkan pikiran-pikiran kita. Dalam memulai sesuatu yang baru harap diingat bahwa manusia punya kecenderungan cepat menyerah dan ingin kembali ke posisi semula, yaitu posisi yang nyaman baginya (comfort zone). Kecuali ia merasakan ada perangsang yang cukup untuk terus bergerak, maka biasanya orang memilih kembali ke posisi semula.

Seperti seorang pemuda yang mencoba memulai merutinkan olahraga, sekali dua kali aktivitas itu membuatnya keletihan. Bahkan membuat ia jatuh sakit. Akhirnya ia berhenti rutin berolahraga.

4. Panik (Persepi Pintu Tertutup)

Manusia yang panik akan cenderung bereaksi berlebihan karena tidak mampu melihat opsi atau alternatif. Ketika lampu-lampu di sebuah gedung mati tiba-tiba, orang-orang yang diam sejenak memikirkan alternatif, tapi sebagian besar orang memilih berteriak secara spontan dan berkerumun menuju suatu titik.

Di setiap kejadian usahakan jangan panik. Terhadap kebiasaan baru yang malah menimbulkan efek negatif, jangan panik lantas menyerah. Tetap tenang dan cari cara lain agar perubahan yang kita yakini baik itu berhasil.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *