Hidup Seperti Permainan Othello

By on May 18, 2016
permainan othello

Banyak orang sudah pernah memainkan permainan ini sehingga nama permainan ini harusnya cukup familiar di telinga Anda. Othello, atau disebut juga Reversi. Dimainkan oleh dua pemain menggunakan papan permainan berukuran 8×8 kotak dan dua jenis keping yaitu hitam dan putih.

Pemain yang memegang keping hitam selalu memulai lebih dulu, dilanjutkan dengan keping putih. Bila satu atau beberapa keping putih terjepit oleh keping hitam dalam satu garis horizontal, vertikal, atau diagonal, maka keping putih itu menjadi keping hitam. Vice versa.

Inti permainannya adalah adu banyak keping hitam/putih, mencari strategi untuk mengubah keping lawan menjadi keping milik kita dengan mengapitnya dalam satu garis. Satu keping hitam bisa mengubah sekian keping putih, begitu juga sebaliknya satu keping putih bisa mengubah sekian keping hitam.

Seperti kehidupan ini.

Ya, permainan itu menjadi metafora bagi perbuatan baik atau jahat dalam hidup kita. Karena setiap perbuatan baik atau jahat, bisa berdampak pada perbuatan sebelumnya. Satu kebaikan bisa menetralkan sekian banyak dosa  perbuatan hitam/kejahatan. Dan satu kemaksiatan bisa menghanguskan pahala perbuatan putih/kebaikan yang sudah kita lakukan.

Keping Putih itu Amal Sholeh

Rasulullah saw pernah bersabda bahwa dosa-dosa yang diperbuat di sela amal sholeh, akan terhapus. Sebagaimana keping-keping hitam Othello yang berubah karena diapit dua keping putih. Amal sholeh yang menetralkan dosa itu antara lain sholat lima waktu, sholat jumat, dan puasa Ramadhan.

“Shalat lima waktu dan Jum’at ke Jum’at dan Ramadhan ke Ramadhan adalah penghapus dosa di antara keduanya selama dosa-dosa besar dijauhi.” (HR. Muslim)

Umumnya amal-amal sholeh yang kita perbuat dapat menghapus perbuatan dosa. Bertebaran begitu banyak hadits dan ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hal tersebut.

Terutama taubat, karena amal ini dilakukan agar Allah berkenan menghapus dosa kita. Dan jangan kira Allah bosan dengan penyesalan seorang hamba yang terjadi berulang kali. Sering kali setelah bertaubat, dosa yang kita mohonkan ampunan tadi kita perbuat kembali. Terus begitu. Tetapi Allah tidak bosan dan terus menyediakan ampunannya.

“Ada seorang hamba yang berbuat dosa lalu dia mengatakan ‘Allahummagfirliy dzanbiy’ (Ya Allah, ampunilah dosaku). Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’ (Wahai Rabb, ampunilah dosaku). Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa’. (Maka Allah mengampuni dosanya), kemudian hamba tersebut mengulangi lagi berbuat dosa, lalu dia mengatakan, ‘Ay robbi agfirli dzanbiy’. Lalu Allah berfirman, ‘Hamba-Ku telah berbuat dosa, lalu dia mengetahui bahwa dia memiliki Rabb yang mengampuni dosa dan menghukumi setiap perbuatan dosa. Beramallah sesukamu, sungguh engkau telah diampuni.”( HR. Muslim no. 2758).

Imam Nawawi dalam Syarh Muslim mengatakan bahwa yang dimaksudkan dengan ‘beramallah sesukamu’ adalah selama engkau berbuat dosa lalu bertaubat, maka Allah akan mengampunimu.

Maka miriplah amal-amal yang kita lakukan itu seperti permainan Othello. Saat berbuat maksiat, s isi jahat diri kita seolah meletakkan sebuah keping hitam di papan. Lantas kita bertaubat, sisi baik diri kita meletakkan keping putih di samping keping hitam tadi yang membuatnya menjadi putih.

Amal-amal lain yang menghapus dosa di antaranya dijelaskan dalam hadits-hadits berikut:

“Sedekah dapat menghapus dosa sebagaimana air memadamkan api” (HR. Tirmidzi).

“Siapa yang berhaji lalu tidak berkata keji dan berbuat kefasikan maka kembali seperti hari ibunya melahirkannya” (HR. Al Bukhari)

“Nabi Bersabda Shallallahu’alaihi Wasallam: Puasa hari Arafah saya berharap dari Allah untuk menghapus setahun yang sebelumnya dan setahun setelahnya dan Puasa hari A’syura saya berharap dari Allah menghapus setahun yang telah lalu” (HR. At Tirmidzi)

Dan membalas “keping hitam” dengan “keping putih” dalam hidup memang sudah diperintahkan oleh Rasulullah saw. Menyusulkan perbuatan buruk dengan perbuatan baik.

“Bertakwalah kepada Allah dimanapun kamu berada, ikutilah kejelekan dengan kebaikan yang menghapusnya dan pergauli manusia dengan akhlak yang mulia” (HR Al Tirmidzi dan Ahmad)

Keping Hitam itu Dengki dan Riya’

Tapi hati-hati, keping putih amal-amal baik bisa berubah menjadi keping hitam dosa manakala kita melakukan perbuatan maksiat tertentu.

Seperti misalnya syirik dan murtad dari agama Islam.

“Barangsiapa di antara kalian yang murtad dari agamanya kemudian mati dalam keadaan kafir maka mereka itulah orang-orang yang terhapus amalannya di dunia dan akhirat. Dan mereka itulah penghuni neraka. Mereka kekal berada di dalamnya.” (QS. Al-Baqarah : 217)

Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu. “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi. (QS Az-Zumar: 65)

Syirik kecil atau bisa disebut riya’, juga menjadi keping hitam yang bisa mengubah keping putih. Letih lelah kita melakukan amal sholeh menjadi tak ada artinya di hadapan Allah karena tidak ikhlas. Allah berfirman dalam hadits qudsi:

“Aku paling tidak butuh pada sekutu-sekutu, barangsiapa yang beramal sebuah amal kemudian dia menyekutukan-Ku di dalamnya maka Aku tinggalkan dia dan syiriknya.” (HR. Muslim)

Riya’ acap kali menjadi keping hitam pengubah keping putih dalam hidup manusia. Bahkan amal perbuatan yang pernah dilakukan bertahun-tahun lalu, tiba-tiba hangus pahalanya karena kita tergoda berbuat sum’ah atau bercerita kepada manusia dengan niat mendapat pujian (tidak ikhlas karena Allah semata). Laksana meletakkan satu kepng hitam yang membuat keping-keping putih terapit dalam permainan Othello.

Tetapi, saat kita bertaubat, keping-keping hitam itu kembali menjadi putih. Dosa riya’ terhapus, pahala pun kembali.

Dan waspada juga terhadap dengki. Karena sempitnya hati kita yang diakibatkan dengki bisa menihilkan amal sholeh yang telah susah payah diperbuat.

“Hindarilah oleh kalian hasad, karena hasad bisa memakan kebaikan sebagaimana api melalap kayu bakar.” (HR Abu Dawud)

Ada beberapa lagi perbuatan buruk yang menghapus amal sholeh. Dan seperti Othello, akhirnya hidup kita akan dihisab mana yang paling banyak antara keping putih kebaikan dan keping hitam kejahatan. Keping-keping itu akan ditimbang oleh Allah swt.

“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. Tahukah kamu apakah neraka Hawiyah itu? (Yaitu) api yang sangat panas.” (QS Al-Qoriah 6-11)

Inilah metafora hidup kita yang laksana permainan Othello.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *