Fokuslah Pada Tujuan Hidup Kita

By on Jul 20, 2016
aliran sungai

Suasana hati Ari sedang sumringah. Ia sedang menjalani hari pertamanya bekerja di sebuah perusahaan swasta asing yang cukup ternama. Kantornya terletak di sebuah gedung tinggi di daerah Sudirman.

Ari berfikir bahwa ia akan cukup betah bekerja di perusahaan barunya. Karena ia mendapat fasilitas yang menyenangkan.

Setelah karyawan bagian Technical Support menginstall dan mempersiapkan komputer yang akan dipakainya bekerja, ia langsung mencoba apakah komputernya terhubung dengan internet. Dan ternyata terhubung. Ia mencoba membuka situs muslimpolitan.com dan segera tampil dengan cepat.

Kemudian ia mencoba situs yang sering diblock oleh administrator perusahaan lain: facebook dan jejaring sosial lainnya. Surprise… rupanya situs-situs jejaring sosial itu tidak diblock. Ia bisa sesukanya bekerja sambil mengakses situs-situs di dunia maya.

Fasilitas itu lumayan berguna baginya. Ia bekerja sebagai programmer. Kalau ada masalah dengan pekerjaannya, ia terbiasa mencari solusinya dengan jalan bertanya kepada google.

Selanjutnya ia mencoba fasilitas lain: telepon. Rupanya ia bisa menelpon nomor lokal maupun interlokal dengan telepon yang ada di mejanya.

Ari merasa bahagia diterima bekerja di perusahaan barunya.

Sebulan kemudian, kinerja Ari dievaluasi. Ternyata performa Ari di bawah yang diharapkan oleh atasannya. Beberapa tugas terbengkalai tidak terselesaikan. Ada tugas yang selesai, itu pun kwalitasnya jauh dari standard.

Setelah atasannya meneliti mengapa kinerjanya tidak sesuai dengan yang diharapkan, rupanya fasilitas internet lah yang membuat Ari lalai. Waktu Ari bekerja lebih banyak terisi oleh browsing dan chatting. Ari terlalu sibuk dengan jejaring sosialnya daripada pekerjaannya. Akhirnya atasan Ari meminta kepada Administrator untuk memblokir situs-situs jejaring sosial khusus untuk Ari.

Setelah situs-situs jejaring sosial diblok, Ari malah makin tidak konsentrasi kerjanya. Ia mulai merasa tidak betah dan menilai bosnya tidak adil.

Tidak cuma itu, rupanya pemakaian telepon Ari pun mulai dibatasi. Karena Ari kelewat batas menggunakan telepon.

Akhirnya Ari semakin uring-uringan. Tidak kerasan bekerja di tempat barunya. Dan ia pun mulai berburu lowongan kerja.

*****

Gambaran Ari adalah gambaran umat manusia.

Tugas utama manusia dihidupkan adalah untuk beribadah kepada Allah subhanahu wa ta’ala. “Dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku.” (QS Adz-Dzariat : 56) Kemudian manusia mendapat banyak sekali fasilitas yang menunjang tujuan hidupnya.

Manusia diberi mata untuk memandang, agar ia bersyukur kepada Allah swt. Ia bisa melihat keindahan ciptaan-Nya dan semakin mengenal-Nya. Manusia diberi pendengaran, akal, hati, dan semua potensi yang ada padanya agar manusia bersyukur. Semua itu untuk penunjang manusia beribadah kepada Allah swt.

“Katakanlah: “Dia-lah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati.” (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur.” (QS Al-Mulk : 23)

Tapi yang terjadi malahan manusia gagal menggunakannya dalam rangka beribadah kepada Allah swt. Kebanyakan manusia menggunakan kenikmatan yang didapatkannya untuk berbuat maksiat kepada Allah swt. Minimal, manusia dilalaikan oleh fasilitas-fasilitas duniawi.

Dan ketika kenikmatan itu ada yang dicabut, banyak manusia yang malah makin durhaka kepada Allah swt daripada introspeksi diri dan memperbaiki kinerja ibadahnya. Manusia mengira Allah tidak adil dan kejam karena kenikmatannya itu dicabut. “Adapun bila Tuhannya mengujinya lalu membatasi rizkinya maka dia berkata: “Tuhanku menghinakanku”” (QS 89 : 16)

*****

Manusia yang akan sukses menyelesaikan misinya di bumi adalah manusia yang fokus pada tujuan hidupnya. Bukan manusia yang terlena oleh banyaknya fasilitas yang ia dapatkan di bumi ini.

Ada banyak pelatihan-pelatihan sholat khusyu’. Berbagai metode terapi diajarkan dan berbagai cara dikembangkan untuk menggapai sholat khusyu’. Padahal Allah swt telah memberikan satu petunjuk sederhana untuk khusyu’.

“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu’, (yaitu) orang-orang yang meyakini, bahwa mereka akan menemui Tuhannya, dan bahwa mereka akan kembali kepada-Nya.” (QS 2:45-46)

Orang-orang yang yakin akan menemui Tuhannya adalah orang-orang yang fokus akan tujuan hidupnya. Ia mempersiapkan diri sebaik mungkin untuk pertemuan dengan Allah Rabbul Izzati.

Ada pun orang yang tidak fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, maka percuma saja ia mengikuti pelatihan sholat khusyu’ sebanyak apa pun. Kalau fasilitas-fasilitas hidup menjadi noktah dalam pandangannya, maka ia tidak akan sempurna menatap masa depan pertemuannya dengan Tuhan. Hanya orang yang tidak terganggu dengan fasilitas hidup, yang fokus pada tujuan hidupnya, yang fokus pada pertemuan dengan Tuhannya, mereka itu lah yang akan mampu khusyu’ dalam sholatnya.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *