Kematian dan Kesiapan Kita

By on Aug 2, 2016
sholat jenazah

Tiga orang pemuda berdiri di dalam halte, menunggu bis yang sama, hendak menuju ke lokasi yang sama. Dari perlengkapan yang dibawa terlihat bahwa mereka hendak melakukan perjalanan yang jauh.

Ada perbedaan di antara ketiganya. Dua di antaranya tidak mengetahui kapan bus yang hendak ditumpangi akan tiba di halte. Karena itu mereka berdiri dengan awas, takut ketinggalan bis. Mata mereka memandangi tiap bis yang lewat dan membaca dengan seksama tulisan yang tertera pada kaca depan. Memastikan apakah tertulis kota tujuan yang berarti itu lah bis yang sedang dinanti.

Sedang yang seorang lagi telah mengetahui kapan waktu kedatangan bis yang selalu tiba teratur. Sekira dua menit lagi berdasarkan jadwal. Karena itu ia berdiri dan mempersiapkan barang bawaannya, memastikan tak ada barang yang tertinggal. Ia tidak perlu memandangi setiap bis yang lewat karena ia tahu pada saatnya bis itu akan tiba jua.

Penantian mereka ditingkahi aroma masakan dari warung makan yang terletak di dekat halte. Bau ayam bakar membuat perut yang sebenarnya belum lapar menjadi berontak. Warung kopi yang menyediakan mie instan rebus dan bubur kacang hijau yang berdiri tak jauh dari halte pun tak kalah menggoda.

Pemuda yang tahu persis jadwal kedatangan bis tentu tak tergoda dengan keramaian yang ada di dua warung itu. Dua menit sangat tak cukup untuk menghabiskan makanan, bahkan untuk memesan dan menunggu santapan terhidang. Karena itu ia tetap berdiri di tempatnya.

Pun dengan seorang lagi yang tidak tahu jadwal. Pikirnya, bila ia ke warung lalu tiba-tiba bis datang, ia bisa ketinggalan bis atau tergopoh-gopoh mengejar bis. Maka lebih baik tak beranjak dari halte menuju warung dengan segala godaannya.

Berbeda dengan seorang lagi. Meski buta dengan jadwal bis tiba, ia turuti juga selera yang bangkit dan perut yang mendadak lapar. “Sekedar memesan kopi atau menyantap bubur kacang hijau hangat, tak kan terlalu menghabiskan waktu lama”, pikirnya. Ia pun berjalan dan mengangkat barang bawaannya menuju kedai kopi.

Pada akhrinya bis yang dinantikan pun sampai di halte itu. Singgah tak lama. Hanya menurunkan atau menaikkan beberapa penumpang, termasuk kedua orang yang sudah siap berangkat. Sedang seorang lain, begitu mengetahui bis yang dinantinya tiba, ia terburu-buru berlari ke arah bis. Tanpa disadari beberapa barang bawaannya tertinggal. Termasuk kopi yang telah terhidang belum sempat dinikmati se-sruput pun.

*****

Cerita di atas adalah kiasan tentang kesiapan kita menunggu ajal tiba.

Pemuda terakhir, yang barang bawaannya tertinggal di kedai kopi demi mengejar bis yang tiba-tiba datang, adalah contoh yang buruk yang mungkin kita semua seumpama dia dalam menunggu kematian. Kita tidak tahu kapan jadwal kematian itu tiba. Tetapi godaan dunia tak kuasa kita abaikan. Hingga saat kematian itu tiba seketika, begitu banyak perbekalan yang tak dibawa menuju alam berikutnya.

Cerita pemuda kedua adalah contoh ideal untuk menunggu kematian. Kita tidak tahu kapan kematian itu tiba, karena itu jangan beranjak meninggalkan “halte dzikrul maut” untuk lalai di “warung-warung kenikmatan dunia”. Agar begitu bis “kematian” tiba, kita telah siap mengangkut “barang bawaan dan semua perbekalan” menuju tempat tujuan.

Sedang cerita pemuda pertama (yang tahu jadwal bis tiba dan sudah mempersiapkan diri) adalah ibarat fenomena Freddy Budiman, tersangka kasus narkoba yang kisahnya menghiasi linimasa jejaring sosial belakangan ini. Seperti diketahui, lelaki yang memiliki nama panggilan Budi ini telah dieksekusi mati oleh kejaksaan pada Jumat, 29 Juli 2016, pukul 00.45 di lapangan tembak Limus Buntu, Pulau Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Yang menarik, sebelum akhir hayatnya ia sempat menggoreskan kisah pertobatan yang menggetarkan hati. Mengetahui vonis mati telah ditetapkan, ia pun mengubah penampilan dan kebiasaan. Hari-harinya banyak diisi dengan sholat, tilawah Al-Qur’an, dan berakhlak baik. Ada media yang mewartakan bahwa ia telah khatam Quran 10 kali selama Ramadhan 1437 H, dan dua kali di hari-hari terakhir menjelang eksekusi mati dilaksanakan.

Mungkin ada yang beranggapan bahwa wajar bila Freddy Budiman bertaubat karena ia tahu kapan ia dijemput oleh Izroil. Namun sesungguhnya lebih wajar lagi bagi kita untuk senantiasa berada dalam kebaikan. Karena kita tidak pernah tahu kapan kematian tiba. Bisa jadi sesaat lagi. Justru kita yang tak tahu kapan kematian itu tiba lah yang harus lebih siap daripada Freddy Budiman. Siap setiap saat.

Teringat nasihat seorang ustadz dalam sebuah ceramah yang memberi tips untuk bisa sholat khusyuk. “Jadikan sholat yang kita dirikan seakan-akan sholat terakhir dalam hidup,” ujarnya. Ia pun membawakan kisah tentang seorang yang hendak dieksekusi mati dan diberi kesempatan untuk mengajukan permintaan sebelum eksekusi dilaksanakan. Orang itu pun meminta agar diizinkan mendirikan sholat dua rokaat. Saat itu lah orang tersebut merasakan sholat yang paling khusyu’ dalam hidupnya.

Akhir cerita, orang itu lolos dari hukuman mati. Tetapi ada pelajaran besar yang bisa diambil, bahwa bila kita selalu menyangka amal yang sedang dikerjakan adalah amal terakhir, maka kita akan selalu bersungguh-sunguh dalam beramal.

Sebagaimana orang kedua yang mengamati setiap bis yang lewat untuk memastikan apakah itu bis yang ditunggunya atau tidak, begitu juga kesadaran kita untuk menggapai husnul khotimah. Hendaknya kita selalu waspada terhadap tiap detik yang berlalu, apakah menyampaikan kita pada kematian atau tidak. Karena itu kita terus berusaha agar dalam kondisi sedang melakukan perbuatan baik. Minimal selalu ada niat perbuatan baik yang direncanakan.

Teringat pula beberapa waktu lalu saya pernah menyaksikan video yang beredar dari grup-grup whatsapp yang menayangkan seorang lelaki mendadak wafat di tengah acara pesta ketika sedang berjoget. Kematian memang tidak pernah toleran terhadap aktivitas yang tengah kita lakukan. Bila saatnya tiba, ia tiba.

Karena itu, tetaplah berada dalam halte dzikrul maut dengan selalu mengerjakan aktivitas kebaikan di dalam halte itu. Usahakan jangan pernah sesaat pun beranjak untuk kemudian lalai dan bermaksiat di dalam warung dunia sehingga kita terkejut dan tak siap ketika tiba-tiba bis kematian itu menjemput.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *