Lampu Merah Rezeki Kita

By on Sep 1, 2016
kipas uang

Di atas jalan raya yang lancar siang hari, Mursyidi memacu motornya dengan kecepatan sedang. Penuh hati-hati meski meliuk-liuk mendahului kendaraan lain yang kecepatannya lebih rendah.

Di tengah konsentrasinya ia mengendalikan kendaraan, dari kaca spion terlihat sebuah motor besar berkecepatan tinggi, mengeluarkan suara bising knalpot, dan bermanuver agak membahayakan. Mursyidi bersiap bila motor itu mendahuluinya. Tak ada niat untuk beradu balap bak racer dadakan.

Dan benar saja, pengendara motor besar itu melampauinya. Berjalan menjauh dan menjauh. Hingga lebih dari 500 meter jauhnya. Tapi…

Motor besar itu terhenti di simpang jalan di bawah lampu lalu lintas yang menyalakan warna merah. Motor Mursyidi mendekat, dan kemudian jarak mereka yang sudah jauh itu kini tinggal tiga meter.

*****

Ilustrasi lain…

Mursyidi punya saudara sepupu yang lebih makmur darinya. Tiap bertemu Mursyidi, bak motivator kawakan, saudaranya itu menguliahi Mursyidi pentingnya semangat bekerja agar sukses. Dengan niat memotivasi pula, saudaranya itu kerap memamerkan kesuksesannya berupa harta benda yang berlimpah.

Ketika Mursyidi datang kepadanya untuk memohon bantuan hutang, alih-alih dipinjamkan, Mursyidi malah dimarahi karena dianggap kurang keras bekerja sehingga bermasalah dengan keuangannya. Mursyidi dilarang untuk meminta bantuan karena itu cermin dari kelemahan dan kemalasan.

Tetapi kini keadaannya berbeda. Duduk di samping kasur, Mursyidi kini menggenggam tangan saudaranya yang tergeletak sakit sudah sebulan sambil memberikan kata-kata penyemangat untuk bertahan hidup. Penyakit stroke tanpa memberi kabar terlebih dahulu telah menyerang saudaranya saat tengah bekerja.

Telah puluhan juta, bahkan ratusan, habis untuk pengobatan saudaranya Mursyidi itu. Bahkan ia kini terancam bangkrut. Tanpa dirinya, usahanya menurun. Proyek-proyek mandeg. Rumah yang megah kini terpampang fotonya di mana-mana dengan status dijual. Sebentar lagi taraf hidupnya dan Mursyidi akan setara.

Penghidupan saudaranya Mursyidi yang tadinya ibarat melaju kencang di lalu lintas yang lancar, kini terhenti di depan lampu merah.

*****

Memang hidup bak ilustrasi di atas. Tak selamanya kita jaya. Harus disadari, tak ada yang tahu takdir yang telah Allah swt persiapkan untuk diri kita. Bila kini kehidupan terasa mudah, lalu kita merasa bangga saat memandangi orang sekitar, bisa kah kita jamin kehidupan akan terus begini?

Telah berlalu cerita para pendahulu yang terkandung pelajaran. Al-Qur’an mengisahkan tentang Qorun. Umat Nabi Musa a.s. itu dikaruniai kemampuan mencari uang di atas rata-rata. Hingga puncaknya, harta yang ia miliki harus disimpan ke dalam beberapa gudang yang besar sekali, yang kunci pintu gudang itu mesti dipikul oleh beberapa orang berbadan kekar. Saking besarnya.

Qorun bisa saja menyembunyikan gudang hartanya dari pengihatan manusia. Tapi ia sengaja memamerkan kekayaannya itu untuk kepuasan diri.

Qorun punya banyak pengawal. Bersama mereka, Qorun berjalan-jalan ke tengah pemukiman kaumnya. Sengaja ia tampil dengan pakaian mewah yang berganti-ganti tiap keluar rumah, dengan puluhan kuda yang dihias, dengan berbagai harta yang bisa diperlihatkan. Tak satu dua orang dari kaumnya yang kagum dan berandai-andai menginginkan harta itu juga.

Hingga akhirnya, di suatu siang ketika Qorun sedang pawai memamerkan kekayaannya, Allah swt benamkan ia dan segenap tentaranya. Bumi bergemuruh, tanah retak, lalu jalan terbelah. Orang-orang panik dengan fenomena alam yang baru terjadi. Mereka berlarian.

Qorun beserta gudang harta dan seisinya longsor masuk ke dalam retakan itu. Semuanya tanpa sisa. Namun bumi hanya menelan Qorun, hartanya, dan pengawal-pengawalnya. Menyisakan kaum Bani Israil yang tadinya berkerumun berdecak kagum menjadi tersadar bahwa Allah yang punya kuasa atas rezeki seorang hamba. Tak pantas rezeki dibanggakan sampai melahirkan kesombongan.

“Aduhai. benarlah Allah melapangkan rezki bagi siapa yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya dan menyempitkannya,” begitu gumam saudara sebangsanya Qorun. Kisah ini bisa diabadikan Allah swt dalam Al-Qashash 76-83.

Saudaraku, sekali lagi ingatlah bahwa Allah swt yang mengatur kehidupan kita. Bila kini kita menikmati rezeki yang melaju kencang, sadarlah mungkin ada lampu merah di depan. Karena itu tetaplah rendah hati dan tak menjauh dari Allah yang punya pertolongan.

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *