Saat Rasulullah Melihat Langit yang Gelap

By on Feb 23, 2017
langit mendung gelap

Langit yang menjadi begitu gelap di siang hari, apalagi disertai angin kencang, tentu menghadirkan pemandangan yang agak seram.

Sore itu langit begitu gelap. Dari lantai 19 gedung perkantoran di daerah Jakarta Selatan, Alfi dan kawan-kawan melempar pandang ke penjuru Jakarta. Dari pohon besar yang bergoyang, mereka mengetahui bahwa awan sedang bertiup kencang.

“Kayak film independen day ya?”, tanya seorang kawan. Yang disebut tadi adalah film Hollywood pada tahun 1996. Yang terkenal dari film itu adalah posternya yang memperlihatkan suasana kota yang gelap akibat pesawat UFO menutupi langit.

Tak lama suara rintik terdengar ketika tetesan-tetesan hujan membentur kaca.

“Hujan. Ini rahmat kan?” tanya seorang kawan dengan tatapan mengarah ke Alfi. Dijawab dengan anggukan kepala.

“Berarti kita gak boleh takut ya liat langit kayak gini. Harusnya seneng ya?” tanyanya lagi.

“Kalo takut pun wajar,” jawab Alfi.

“Lho kok? Kan hujan itu rahmat.”

“Karena Rasulullah saw pun pernah menampakkan mimik khawatir saat hujan gelap,” jawab Alfi.

Perkataan itu membuat kawan-kawannya penasaran. Dan berceritalah Alfi di suatu ketika Rasulullah saw bersama Aisyah menghadapi langit yang menjadi kelam oleh mendung.

*****

Hadits berikut menjelaskan bagaimana ekspresi Rasulullah saw saat melihat awan gelap menggelayut di langit. Ia saw seketika teringat akan keadaan orang yang diadzab dulu. Terutama kaum Nabi Nuh a.s., di mana adzab yang menimpa mereka didahului dengan awan menggulung-gulung di petala langit. Namun disangka oleh kaum Nabi Nuh a.s. sebagai sesuatu nikmat yang akan turun.

Pada dasarnya hujan memang rahmat dari Allah swt. Hujan mengandung berkah. Tetapi kondisi seorang muslim harus senantiasa peka untuk bertafakur, merenungi kekuasaan Allah swt. Sebagaimana Rasulullah saw contohkan, ada momen-momen tertentu yang membuatnya teringat akan adzab yang dialami oleh umat terdahulu.

Dalam keadaan dikaruniai nikmat pun kita harus tetap waspada akan ketidakridhoan Allah swt.

Berikut ini hadits tersebut:

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا زَوْجِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ
مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَاحِكًا حَتَّى أَرَى مِنْهُ لَهَوَاتِهِ إِنَّمَا كَانَ يَتَبَسَّمُ

قَالَتْ وَكَانَ إِذَا رَأَى غَيْمًا أَوْ رِيحًا عُرِفَ فِي وَجْهِهِ قَالَتْ يَا رَسُولَ اللَّهِ إِنَّ النَّاسَ إِذَا رَأَوْا الْغَيْمَ فَرِحُوا رَجَاءَ أَنْ يَكُونَ فِيهِ الْمَطَرُ وَأَرَاكَ إِذَا رَأَيْتَهُ عُرِفَ فِي وَجْهِكَ الْكَرَاهِيَةُ

فَقَالَ يَا عَائِشَةُ مَا يُؤْمِنِّي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا:

{ هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا } (متفق عليه)

Dari Aisyah radliallahu ‘anha -istri Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam- ia berkata;

“Saya tidak pernah melihat Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam tertawa terbahak-bahak hingga terlihat anak lidahnya, beliau hanya tersenyum.”

Aisyah berkata; “Apabila beliau melihat awan atau angin maka hal itu dapat diketahui pada wajahnya.”

Dia berkata; “Wahai Rasulullah! Apabila orang-orang melihat awan, mereka sangat bahagia berharap supaya turun hujan. Sedangkan saya melihat engkau setiap kali melihatnya tampak kekhawatiran di wajahmu.”

Beliau bersabda: “Wahai Aisyah! Saya tidak merasa aman, jangan-jangan isinya mendatangkan siksaan. Telah diadzab suatu kaum dengan angin dan suatu kaum lagi melihat adzab, namun dia malah mengatakan;

‘Ini adalah awan yang mengandung hujan, yang akan menghujani kami (padahal justru awan itu akan mendatangkan azab) ‘. (QS. Al Ahqaf 24).” (Muttafaq alaih)

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *