Belajar Ikhlas dari Aplikasi GPS

By on Mar 8, 2017
aplikasi gps

Kemajuan teknologi sangat membantu umat manusia. Salah satu sarana yang memanjakan manusia adalah aplikasi mobile yang menggunakan GPS. Bukan Guidance Penduduk Sekitar, tapi Global Positioning System, sistem untuk menentukan letak di permukaan bumi dengan bantuan penyelarasan (synchronization) sinyal satelit.

Aplikasi yang memanfaatkan GPS itu selain bisa memperlihatkan posisi penggunanya dalam peta, juga bisa mengarahkan ke lokasi yang dicari. Dengan panduan suara, pengguna akan diberi tahu harus belok kanan atau kiri pada belokan sekian meter di depan untuk menuju titik yang dituju. Sangat membantu.

Banyak macam aplikasi seperti ini. Ada Google Maps, Waze, dll. Bisa diinstall di telepon genggam yang kita miliki.

Ada pelajaran yang bisa kita ambil dari aplikasi seperti ini. Tentang keikhlasannya memberi saran kepada pengguna.

Apa yang terjadi kalau saran yang diberikan oleh aplikasi kita abaikan? Misalnya kita diberi tahu untuk berbelok ke kiri pada jalan 400 meter di depan. Tapi kita tetap lurus, karena sudah tahu jalan atau mungkin karena kelewatan. Apakah aplikasi itu akan ngambek, atau ngomel-ngomel?

“Ah elu, udah gw kasih tau belok kiri. Tapi masih lurus juga. Sono cari sendiri,” terdengar suara begitu dan kemudian aplikasi itu mati sendiri. Mungkin kah?

Tidak. Tapi system akan mengkalkulasi ulang, memperhitungkan jarak ke titik tujuan, mencermati kepadatan jalan, dan lalu kembali memberi saran yang terbaik. Selama pengguna masih menanyakan arah ke titik yang dituju, system akan terus membantu.

Tidak ada rasa kecewa ketika saran dari aplikasi itu diabaikan pengguna. Juga ketika sampai, tak ada suara bernada kesombongan dibunyikan. “Kan, bener kan saran gw? Cepet lagi kan nyampenya. Gwe gitu loh…” Tak kan ada kalimat seperti itu.

Coba bandingkan dengan manusia. Di dalam rapat, meeting, musyawarah, syuro, dan lain-lain istilahnya, memberi saran kadang menjadi pintu setan untuk menebar virus penyakit hati.

Saat kita mengungkapkan gagasan di hadapan peserta rapat, setan sudah mulai bekerja membuat kita tinggi hati. Gaya bicara dibuat sekeren mungkin, istilah-istilah asing dari ngenglish, ngarab, latin, kita pakai untuk berargumen. Sebisa mungkin kita ingin membuat orang lain terkesan.

Saat saran diterima, kita semakin tinggi hati. Dan ketika saran itu membawa hasil, kita lupa diri, melupakan Allah swt yang telah memberi ilham. Tapi saat saran ditolak, rasanya langit runtuh. Timbul rasa kecewa, dalam hati mengecam si penolak saran. Saat saran orang lain yang diterima, sedikit timbul harap agar saran itu membawa kegagalan. Itu lah yang namanya hasad/dengki.

Tak seperti aplikasi yang menggunakan GPS itu, yang ia tahu hanyalah memberi saran terbaik. Ia fokus pada tujuannya. Dan seharusnya seperti itu lah keikhlasan saat bermusyawarah. Kita berfikir menemukan solusi yang terbaik, kita lakukan itu karena Allah swt. Kita memberi saran untuk kemaslahatan bersama, karena Allah. Dan setelah itu kita berlapang dada. Saran diterima atau tidak, telah tercatat di Lauhul Mahfuzh. Itu lah ikhlas berbuat karena Allah.

Zico Alviandri

About Redaksi Muslim Politan

Muslimpolitan adalah portal muslim perkotaan. Menghadirkan tulisan-tulisan islami, berita, serta feature dengan segmen masyarakat perkotaan. Fanspage: www.facebook.com/muslimpolitan Twitter: www.twitter.com/muslimpolitan

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *