Berkaca dari Kekhusyukan Mereka

By on Oct 17, 2017
khusyuk

Beberapa kali pindah tempat kerja, saya hampir selalu punya teammate non muslim yang cukup akrab. Salah satu indikator kearaban adalah seringnya kami makan siang bersama. Di momen itu kami bertukar cerita, dan saya punya kesempatan mengamati hal yang berbeda yang dimiliki mereka, yaitu cara berdoa ketika hendak makan.

Beberapa muslim yang saya amati, mereka tidak terlalu fokus berdoa saat hendak makan – termasuk saya sendiri. Memang ada kalimat yang dirapalkan, bisa dilihat dari gerak bibir, tetapi bacaan itu diucapkan sembari beraktifitas lain seperti mengaduk makanan, menyiapkan minum, dll. Berbeda dengan teman-teman non muslim, khususnya yang beragama nasrani yang pernah saya akrabi.

Melihat teman non muslim berdoa sebenarnya cukup membuat hati ini malu. Biasanya mereka menundukkan kepala beberapa saat, terlihat kehusyukan dari mimik mereka, setelah selesai mereka mengangkat kepala dan kembali bercengkerama. Sikap tunduk, diam, khusyuk, fokus berdoa, tidak saya temui dalam perilaku teman-teman muslim yang pernah berbagi meja bersama saat makan siang.

Meski ada yang membid’ahkan, saya sendiri tetap membaca do’a “Bismillah, Allahumma bariklana fiimaa rozaqtanaa waqinaa adzabannar” seperti yang pernah diajarkan sewaktu kecil. Dengan catatan, tambahan “Allahummabariklanaa…” tidak saya yakini berasal dari Rasulullah saw. Karena setelah membaca tulisan-tulisan asatidz, diketahui hadits yang menyebutkan doa tersebut tidak shohih. Makanya ada yang membid’ahkan. Saya sendiri ikut pendapat yang menyatakan boleh selama tidak dianggap berasal dari Rasulullah.

Saya tahu, teman-teman muslim pun membaca doa itu ketika makan. Banyak yang hafal doa ini. Tetapi tidak saya temui keseriusan saat membacanya. Introspeksi kepada diri sendiri, saya pun sering tidak menghadirkan hati ketika membaca doa itu. Ketika menyebut nama Allah, tidak menghadirkan kesadaran bahwa Allah lah yang telah menyediakan rezeki yang terhidang di atas meja di hadapan saya.

Makanya saya pantas sekali malu kepada teman-teman non muslim. Padahal saya yakin lebih mengenal Allah swt daripada mereka, yakin lebih benar tujuan berdoanya, yakin lebih benar cara beribadahnya, tetapi kurang kesungguhan. Pada sampel satu momen, saya merasa kalah khusyuk dari mereka.

Tidak hanya saat mau makan, yang saya tahu mereka juga berdoa ketika tidur. Meski hanya pernah melihat di film, tapi yang saya tangkap cara mereka berdoa juga lebih khusyuk dibanding saya yang sembari lalu saja membaca “Bismika Allahumma ahya wa bismika amuut”. Sering kali tanpa menghadirkan kesadaran bahwa Allah swt yang menggenggam kehidupan dan kematian. Hanya sekedar rapalan rutinitas.

Saya beriman dengan firman Allah swt berikut yang ditujukan kepada orang kafir, “Dan Kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan…” (QS: Al-Furqaan : 23). Artinya, kekhusyukan mereka memang sia-sia belaka bila tidak dilandasi iman kepada Allah swt. Tapi bukan berarti saya bisa merasa tenang. Ada ayat lain yang “membayangi”, yaitu:

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik.” (QS Al-Hadid: 16)

اَللّٰهُمَّ اِنَّانَعُوْذُبِكَ مِنْ عِلْمٍ لاَ يَنْفَعُ وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَتَشْبَعُ وَمِنْ دَعْوَةٍ لاَيُسْتَجَابُ لَهَا

“Ya Allah, sesungguhnya kami berlindung kepada Engkau dari ilmu yang tak bermanfaat, hati yang tidak khusyu’, jiwa yang tak kenal puas dan doa yang tak diterima.”

About Zico Alviandri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *