Kisah Pohon yang Bersuara

By on Nov 1, 2017
I love Muhammad

Baru-baru ini pendiri Partai Nasional Demokrat, Surya Paloh memberi pengakuan yang menghebohkan. Kepada awak media ia katakan telah mendengar curhat pohon-pohon di Meikarta yang merasa gembira tinggal di sana. Wow. Subhanallah.

Seriuskah Surya Paloh, atau cuma becanda? Yang jelas saya belum menemukan seorang pun yang percaya. Masyarakat hanya menganggap kalimat itu cuma gurauan demi mempromosikan pembangunan di kawasan yang menjadi pro kontra publik.

Tapi cerita tentang pohon yang bersuara memang pernah ada. Terdengar oleh Nabi Muhammad saw dan para sahabatnya. Sayang, Surya Paloh kala itu belum lahir, dan peristiwa itu pun tidak terjadi di Meikarta.

Yang didengar oleh orang-orang mulia itu adalah sebuah suara tangisan atau teriakan. Berasal dari sebuah batang kurma. Ketika baru saja sebuah mimbar “diresmikan” sebagai tempat Rasulullah saw berdiri untuk berkhutbah.

Mimbar baru itu terdiri dari tiga jenjang. Karena umat muslim sudah semakin banyak, barisan sholat pun semakin panjang ke belakang. Jamaah yang mengisi shaf-shaf terakhir sudah sulit melihat Rasulullah saw berbicara saat khutbah. Maka usulan seorang sahabat disetujui oleh Nabi untuk membuat sebuah mimbar yang dengan berdiri di atasnya, orang-orang bisa melihat cahaya yang bersinar dari wajah Nabi dengan jelas.

Kiranya mimbar karya shahabiah Anshar itu telah membuat pohon kurma cemburu. Betapa tidak, sebelumnya Rasulullah selalu meletakkan kakinya yang pernah terbang ke langit ke tujuh itu ke atas batang pohon tersebut bila berkhutbah. Namun untuk selanjutnya, batang kurma itu tak kan lagi bisa memikul tubuh manusia pilihan.

Sehingga terdengarlah suara tangisan. Dalam sebuah riwayat digambarkan bunyi itu seperti teriakan anak kecil. Di riwayat lain seperti suara induk unta. Jeritan pilu, bukan suara “om telolet om”, itu udah gak populer lagi.

Orang-orang di sana sontak bengong. Ajaib, ada pohon kurma bersuara. Kids zaman now mungkin segera merekam live fenomena itu dan menyiarkannya di facebook, Instagram, atau periscope.

Rasulullah saw paham situasi yang terjadi. Ia yang sedang ada di atas mimbar segera turun menghampiri batang kurma yang sudah merasa, “da aku mah apa atuh, cuma… (isi sendiri yang lucu)” Hampir-hampir batang kurma itu terbelah karena sedihnya. (Backsound terdengar lagu hancur hancur hatiku).

Sesaat kemudian suara itu reda setelah Nabi memeluk dan mengelusnya. Pelukan dan elusan yang langka dirasakan para jomblo. “Ia meratap karena rindu akan dzikir yang biasa didengarnya,” jelas Rasulullah kepada para sahabat.

Peristiwa ajaib ini menjadi lumrah bila kita memahaminya dengan keimanan. Namun ibrahnya, seperti yang dikatakan oleh Hasan Al Bashri rahimahullah, “Wahai kaum muslimin, batang kurma saja bisa merintih karena rindu bertemu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalian harusnya lebih berhak rindu pada beliau.”

Kelanjutannya, Rasulullah menawarkan pilihan kepada pohon tersebut. Bila mau, ia bisa tumbuh lagi dan berbuah lagi. Atau ia bisa menjadi pohon yang hidup di surga.

Pohon kurma itu pun memilih ingin ditanam di surga agar para kekasih Allah bisa merasakan buahnya. Bukan tinggal di Meikarta.

Cerita tersebut berasal dari Jabir bin Abdullah r.a., terdapat dalam kitab hadits Shohih Bukhari.

About Zico Alviandri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *