Masih Ada Alasan Untuk Takut Karena Gerhana

By on Feb 6, 2018
gerhana bulan dan matahari

“Bang/mpok zaman old, ane mau nanya… Klo istri lg hamil, trs ada gerhana nongol klo gk ngumpet dibawah kolong meja emang anaknya kulitnya nanti belang y? mitos atau fakta ya? #mitamit.”

Status itu dibagikan ke sebuah grup di facebook oleh seorang warganet di sekitar fenomena Super Blue Blood Moon kemarin. Mungkin maksudnya sekadar becanda. Menertawakan perilaku orang zaman dulu yang mudah terpengaruh oleh mitos. Tapi gerhana memang peristiwa yang begitu banyak dikerubungi cerita mistis.

Islam datang untuk menghapus khayalan mengada-ngada umat manusia atas peristiwa alam tersebut. Itulah sebabnya Allah swt menghendaki gerhana terjadi saat kematian Ibrahim, anak laki-laki Nabi Muhammad saw. Sesuai anggapan yang sudah ada, orang-orang mulai menghubungkannya. Lalu Nabi kemudian bersabda untuk menghapus takhayul. ”Sesungguhnya matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran Allah, keduanya terjadi gerhana bukan karena kematian seseorang dan tidak karena kelahiran seseorang. Ketika kalian melihatnya, maka berdo’alah pada Allah dan shalatlah sampai selesai.” (Muttafaqun ‘alaihi)

Wajar ada rasa takut di benak orang zaman dulu ketika melihat gerhana. Mereka menganggap itu adalah musibah karena sensasi dari suasana yang seketika gulita padahal bulan sedang purnama atau matahari sedang cerah-cerahnya. Bagaimana bila kegelapan itu berlangsung seterusnya? Rasulullah saw pun mengakui, bahwa gerhana memang ada untuk membuat manusia takut sehingga memunculkan harap kepada Allah swt.

“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda di antara tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang dan tidak pula karena hidupnya seseorang. Tapi, Allah Ta’ala menakut-nakuti hamba-Nya dengan keduanya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Lalu bagaimana dengan kondisi di zaman modern ini, di mana pengetahuan sudah mengupas fenomena alam dengan ilmiah, dan terbukti bahwa gerhana alam hanyalah peristiwa biasa dan bukan bencana. Apakah manusia tidak perlu lagi takut? Bagaimana dengan relevansi hadits di atas, bahwa Allah menakuti hamba dengan gerhana?

Di zaman ini masih ada sebagian kalangan umat muslim yang melarang untuk mengabarkan gerhana kepada masyarakat. Alasannya karena peristiwa itu untuk menakuti manusia jadi tidak boleh menebarkan rasa takut, atau khawatir kesakralan gerhana berkurang.

Memang, kini manusia tidak lagi takut dengan gerhana. Malah mereka menjadikan pemandangan itu sebagai hiburan. Berselfie, memamerkannya di media social, dll. Tidak ada lagi kekhawatiran layaknya orang dulu yang belum mengerti.

Tapi bagi ulul albab, peristiwa gerhana, dan fenomena alam lainnya yang dianggap biasa, tetap menghadirkan rasa takut di hatinya. Bukan takut terhadap musibah, tapi rasa takut terhadap Dzat Yang Mengkreasikan Peristiwa-Peristiwa Itu. Mereka memahami proses terjadinya secara ilmiah pada gerhana, juga pada hujan yang turun, pada pergantian malam dan siang, dll. Tapi kepahaman itu membuat mereka merasa semakin kecil di hadapan Allah swt. Sehingga menghadirkan rasa tak aman akan murka-Nya.

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri atau duduk atau dalam keadan berbaring dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata): “Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya barangsiapa yang Engkau masukkan ke dalam neraka, maka sungguh telah Engkau hinakan ia, dan tidak ada bagi orang-orang yang zalim seorang penolongpun.””

Begitulah ulul albab yang digambarkan Al-Qur’an surat Ali Imron 190-193. Saat mempelajari ilmu pengetahuan, iman di hati membawa mereka pada kehidupan akhirat. Sehingga mereka menemukan bahwa Tuhan yang menciptakan alam dengan berbagai fenomena menakjubkan di dalamnya, tentu kuasa menghadirkan siksa yang lebih luar biasa di akhirat nanti. Maka mereka pun takut, dan berdoa terhindar dari neraka.

Karena itu, hadits Rasulullah saw bahwa gerhana untuk menakuti hamba-Nya akan selalu relevan selama ulul albab masih ada di bumi ini.

About Zico Alviandri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *